Luka di Pipi Mas
Pulang sekolah kemarin Mas langsung mengadu pipinya luka akibat cakaran temannya. Dia memperlihatkan pipinya yang katanya berdarah. Saya lihat ada lecet sedikit tapi tak berdarah.
Setelah ganti baju dan cuci tangan, sambil ngemil piscok yg saya sediakan ia bercerita tentang kejadian di sekolah hingga pipinya luka. Saya mendengarkan saja. Berawal dari gunting teman tak sengaja mengenai kepalanya lalu Mas cubit hidung teman tsb. Temannya membalas cubitan Mas dengan mencakar pipi. Itu terjadi saat jam istirahat dan mereka sudah saling memaafkan menjelang jam masuk pelajaran selanjutnya.
Setelah Mas selesai bercerita, saya menanyakan apakah lukanya masih sakit? Mau diobatikah? Mas menjawab sudah tak terasa sakit, tak perlu diobati. Saya berterimakasih Mas sudah mau bercerita pada saya. Saya katakan saya senang Mas jujur dan mempercayai saya. Saya memujinya karena telah menyelesaikan masalahnya sendiri, sudah saling memaafkan.
Perlu kerja keras bagi saya menahan diri untuk tidak menginterogasi saat tahu pipi Mas luka. Apalagi kalau dia mengadu luka akibat temannya. Duuh...mulut ini pasti sudah gatal untuk mencari siapa yang salah, lalu berlanjut nasihat panjang lebar. Dan membuat Mas malas bercerita.
Kali ini saya belajar mendengar. Dan ternyata itu membuat saya lebih mengenal Mas. Saya juga belajar tentang fokus pada solusi (bukan melulu membahas masalah seperti sebelumnya) agar kejadian serupa tak terulang lagi.
#hari2
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
Tidak ada komentar:
Posting Komentar