Selasa, 28 Februari 2017

Hari6_Kemandirian Anak_Nevita Siswanti

Pengamatan Konsistensi

Hari ini saya sudah agak baikan. Saya mulai mencicil membereskan cucian. Saya juga menyetrika baju-baju yang sudah menumpuk. Apalagi besok pagi suami akan dinas ke luar kota selama dua minggu, saya mesti menyiapkan baju-baju yang harus dibawa. Yumna membantu saya memilah baju anak-anak dan dewasa. Dia juga membantu melipat kaos kaki. Namun menyapu, dia kali ini tak mau :-)

Untuk urusan makan Yumna sudah bisa makan sendiri, namun butuh waktu lama dan masih harus sering diingatkan untuk tidak sambil main-main. Masih butuh waktu untuk melatihnya.

Arfa alhamdulillaah sudah cukup konsisten dengan jadwalnya sendiri. Juga dengan tugas barunya mencuci piring. Sayang hari ini saya tidak memasak, jadi ia belum ada kesempatan untuk belajar membuat masakan sederhana. Semoga konsistensinya selalu terjaga.

Bunda Sayang
Melatih Kemandirian
Ibu Professional
IIP

Senin, 27 Februari 2017

Hari5_Kemandirian Anak_Nevita Siswanti

Mencuci Piring dan Menyapu

Pagi tadi yang menyiapkan bekal Arfa adalah ayahnya. Saya masih belum banyak beraktivitas di pagi hari, badan masih lemas. Saya hanya menanyakan apakah semuanya sudah siap, ketika Arfa salim untuk berpamitan, dan ia menjawabnya sudah.

Selama kakaknya sekolah, Yumna di rumah menjaga saya. Beberapa kali ia mengambilkan saya minum dan menawarkan biskuitnya. Trimakasih sholihah...

Saat pulang sekolah Arfa cerita jika tadi bekalnya tidak ada sendoknya. Ia bilang nggak enak kalau Ibu sakit, jd ada yang kurang. Hemmm...rasanya pas ini untuk mengajaknya ngobrol tentang perlunya berlatih mandiri, dari alasan hingga manfaatnya.

Pas mau tidur siang saya cerita tentang kondisi kemarin saat saya sakit. Sebagian besar suami yang mengerjakan, anak-anak membantu beberapa yang mudah. Padahal di usia Arfa harusnya sudah bisa mencuci piring, mengucek bajunya sendiri, membuat dan menyiapkan makan untuk dirinya sendiri. Saya juga minta maaf padanya saya terlambat mengajaknya mempelajarinya. Saya menawarkan bagaimana kalau mulai sekarang dia belajar mencuci piring, mencuci bajunya, memasak sederhana. Arfa tertarik, dia memilih mencuci piring terlebih dahulu.

Sore hari Arfa menjalankan rencananya, ia mencuci piring. Agar tangannya bisa menjangkau bak cuci piring, saya mengusulkan naik kursi. Kali ini dia mau, kadang dia agak takut ketinggian. Saya memberi contoh dan arahan sekali Arfa langsung ketagihan. Ayahnya pulang langsung dikasih peringatan, "Yah, yang cuci piring Mas ya, ingat!"
Melihat kakaknya mencuci piring adiknya berinisiatif menyapu lantai, sebelum saya mengingatkannya. Alhamdulillaah..

Meski kesadaran kami sebagai orangtua terlambat melatih kemandiriannya, semoga kami bisa mendampingi mereka belajar mandiri. Dan saya pun menyemangati diri sendiri, Yes I Can ! In sya Allah.

Bunda Sayang
Melatih Kemandirian
Ibu Professional
IIP

Minggu, 26 Februari 2017

Hari4_Kemandirian Anak_Nevita Siswanti

Di Balik Demam Ibu

Ternyata sampai hari ini demam saya masih berlanjut. Ditambah sakit kepala yang berdenyut-denyut. Jadilah saya hanya berbaring di kamar. Untung hari Minggu suami ada di rumah.

Dari urusan menyiapkan makanan, mencuci baju (yang sudah terlanjur saya rendam kemarin:-( ), menjemur baju dilakukan suami dan anak-anak.
Dalam melakukan itu semua mereka masih menanyakan detailnya kepada saya. Masak nasi berapa takaran, bagaimana cara goreng pisang, tepungnya yang mana :-)

Saya perhatikan ada yang kurang pas di rumah ini. Beberapa lokasi kurang ramah anak. Kakaknya saja belum sampai melihat wajan, apalagi adiknya. Memang dulu pertimbangan kami hanya menghindari banjir, jadi beberapa tempat ditinggikan. Jadilah tadi anak-anak hanya bisa membantu mengupas pisang, menjemur baju yang kecil-kecil di jemuran handuk.

Ada hikmah di balik saya sakit :
* Ketahuan ada PR tentang kemandirian terkait pemenuhan kebutuhan diri sendiri. Arfa sudah hampir 8 th, sebaiknya sudah dilatih masak sederhana.
* Ketahuan belum ada pendelegasian tanggungjawab pekerjaan Rumah Tangga. Setidaknya tidak semuanya harus bertanya pada saya atas semua detail barang dan pekerjaan Rumah Tangga.
* Suami dan anak-anak merasakan "beratnya" pekerjaan Rumah Tangga. Sempat saya dengar tadi Arfa berkata, "Capek ya Yah, beres-beres".
Ayahnya menjawab, " Iya, makanya mulai sekarang kita harus bantu Ibu ya. Ayah aja cuma bantu sedikit udah capek. Apalagi Ibu ya, seharian banyak banget yang dikerjakan". Ada rasa nyessss...Semoga saya segera sehat kembali dan bisa mendampingi anak-anak menuju kemandiriannya.

Lagi-lagi hari ini belum bisa evaluasi target kemandirian yang telah ditetapkan untuk minggu ini. Tapi tak apa, Alhamdulillaah dapat bonus pelajaran berharga yang bisa diperbaiki.

Bunda Sayang
Melatih Kemandirian
Ibu Professional
IIP

Sabtu, 25 Februari 2017

Hari3_Kemandirian Anak_Nevita Siswanti

Ada Bonus Konflik

Kondisi lidah dengan dua sariawan membuat saya susah makan.  Ditambah beberapa hari lalu begadang  menjaga Arfa yang sedang sakit. Ternyata tubuh saya minta istirahat juga. Bakda Dzuhur saya kedinginan dan tiduran di kamar.

Waktunya makan siang anak-anak sudah tahu kondisi saya. Arfa membantu adiknya mengambilkan makanan. Mereka pun makan berdua di ruang tengah, saya masih berselimut di kamar.

Tak berapa lama terdengar adiknya teriak-teriak tidak suka. Sedangkan kakaknya tertawa menggoda. Saya masih diam di kamar. Paling Arfa menggoda adiknya, pikir saya. Namun lama-lama terdengar suara Arfa, "Kamu duluan yang mukul."
Adiknya menyahut, "Kamu!"
Wah...kok ada adegan pukul memukul. Saya pun keluar. Si adik langsung mengadu, "Ibu, masak nasi adik dikasih sambel sama Mas".
Kakaknya juga menimpali, " Tapi adik duluan yang mukul".
"Wah, Ibu nggak tahu nih, tapi Allah melihat dan malaikat yang mencatat. Coba, menurut kalian berdua, apakah berbuat salah, apakah mengganggu,apakah menyakiti orang lain?"
Mereka berdua diam. Lalu adiknya berkata, "Maaf ya Mas, aku mukul kamu".
Kakaknya menjawab, " Maaf juga ya, aku juga mukul kamu. Eeemmm...sama kasih sambel, hehe.."
Mereka bersalaman sambil tertawa dan membicarakan kejadian barusan. Alhamdulillaah, mereka kembali damai tanpa drama.

Sebelum nya, jika mereka bertengkar, saya langsung turun tangan dan menghakimi, lalu menyuruh mereka rukun kembali. Tidak ada kesempatan mereka memikirkan apa yang telah mereka lakukan. Dan setelahnya malah nggak langsung rukun, adiknya nempel saya cari perlindungan, kakaknya merasa disalahkan. Hari ini saya dapat bonus, di luar target yang ingin dilatihkan minggu ini, mereka belajar menghadapi konflik. Saya harus lebih banyak belajar tega dan menahan diri demi kemandirian mereka.

Bunda Sayang
Melatih Kemandirian
Ibu Professional
IIP

Jumat, 24 Februari 2017

Hari2_Kemandirian Anak_Nevita Siswanti

Ada yang Mulai, Ada yang Ganti

Hari ini Arfa sudah memulai program kemandiriannya. Ia membuat sendiri beberapa jadwal kegiatan dilengkapi waktu pelaksanaannya. Ia juga memasang alarm di HP saya untuk membantunya agar tidak melebihi waktu yang ia tetapkan sendiri. Selepas sholat maghrib ia makan, sholat isya lalu belajar. Itu semua ia lakukan tanpa saya ingatkan.

Yumna kemarin berencana belajar membantu Ibu dengan menyapu lantai rumah. Namun kenyataannya hari ini Yumna tidak mau menyapu. Saat kakaknya sekolah ia asyik main dengan boneka. Ia berperan sebagai Ibu yang memasak untuk anaknya. Ia juga mengajak bonekanya belanja, mengajarinya menyanyi dan membacakannya buku cerita (versi dia, tentunya).

Saat kakaknya sudah pulang sekolah, ia mengikuti jadwal kakaknya. Ia ikut belajar. Ia minta dibacakan beberapa buku cerita.

Padahal kadang ia senang sekali membantu saya mengupas bawang, memotong sayur, menyapu lantai, melipat baju.

Ya, di usia Yumna ia senang meniru orang dewasa atau yang dianggapnya lebih senior. Mungkin hari ini ia ingin melakukan pekerjaan/kegiatan yang dilakukan kakaknya. Tak apalah, semangatnya untuk senang belajar perlu juga diapresiasi. Ia sudah hafal dengan beberapa buku cerita yang kami punya.

Malam ini saya mengucapkan terima kasih pada Arfa yang telah menepati jadwal yang ia buat sendiri. Meski ternyata ada beberapa kegiatan yang melebihi waktu yang ia tetapkan karena memang belum selesai. Juga terhadap Yumna, saya sampaikan apresiasi atas semangatnya "membaca" buku hari ini. Saya tanyakan, apakah besok mau menyapu? Ia jawab mau, tapi nanti-nanti saja :-)

Saya mengevaluasi diri. Mungkin Yumna tidak mau menyapu karena saya kurang memberinya motivasi hari ini. Semoga esok hari kami lebih baik lagi.

Bunda Sayang
Melatih Kemandirian
Ibu Professional
IIP

Kamis, 23 Februari 2017

Hari1_Kemandirian Anak_Nevita Siswanti

Memulai Konsistensi

Belajar kemandirian, sebenarnya Arfa (7.5yo) dan Yumna (4.5yo) sudah memulainya. Mereka sudah tidak memakai diaper sejak usia 1.5 tahun. Pada waktu yang sama mereka juga sudah belajar makan sendiri meski masih berantakan.

Di usianya sekarang, Arfa sudah bisa membantu pekerjaan rumah, seperti menyapu dan mengepel. Dia juga suka membuat kreasi sederhana dari barang bekas, beberapa kali atas inisiatifnya sendiri.

Sedangkan Yumna sudah bisa membersihkan badan sendiri, meski kadang masih saya bantu sedikit. Sehabis bermain pun ia mau membereskannya kembali. Kadang atas inisiatif sendiri, kadang juga masih perlu diingatkan.

Setelah mendapat materi kemandirian ini saya tersadar ternyata kami, saya dan suami belum konsisten dalam mengajarkan kemandirian. Padahal anak-anak sebenarnya sudah cukup bisa diajak kerjasama. Anak-anak kadang selesai bermain tidak langsung membereskannya kembali, dan sambil mengajak membereskan saya masih ikut membantu. Juga tentang pekerjaan rumah, meski mereka sudah bisa melakukannya beberapa, tetapi kami belum menugaskannya untuk rutin melakukannya.

Maka dari itu, untuk minggu ini kami telah sepakati bahwa kami akan belajar :
* Arfa akan belajar mengatur waktunya sendiri, kapan ia harus belajar, menggambar, membuat kreasi, membantu ibu, dll.
* Yumna akan belajar membantu Ibu menyapu lantai rumah.

Qodarullaah hari ini anak-anak sedang kurang sehat. Arfa hidungnya sempat berdarah, ia masih dalam pemulihan sehabis kena Rubella minggu kemarin. Sedangkan Yumna mengeluh pusing dan sakit tenggorokan. Sambil merawat mereka, saya mengajak membuat program belajar kemandirian ini.

In sya Allah hari ini kami telah bertekad untuk menjadi lebih baik. Saya belajar tentang konsistensi, juga mengajak mereka untuk sama-sama mempelajari dan mempraktikkannya.

#Bunda Sayang
#Melatih Kemandirian
#Ibu Prefesional
#IIP

Rabu, 15 Februari 2017

Antara Hati, Kepala dan Lisan_Aliran Rasa_Nevita Siswanti

Mengerjakan tantangan 10 hari dalam materi Komunikasi Produktif bagi saya masih kurang banyak. Perlu tiap saat ditantang dan dicatat agar menjadi pengingat.

Ternyata selama ini masih begitu banyak kesalahan yang saya perbuat dalam berkomunikasi. Bahkan setelah belajar materinya. Dalam praktek tantangan 10 hari masih juga terjadi kesalahan itu.

Ada catatan yang saya "bold" selama tantangan 10 hari dan hari-hari sesudahnya :
1. Perlunya kompak hati dan kepala dalam menjaga lisan. Saya masih harus sering menahan lisan untuk memilih kalimat positif pada reaksi spontan
2. I am responsible for my communication result. Hal ini membuat saya belajar sabar jika ada miscommunication, artinya saya harus memperbaiki cara berkomunikasi, bukan kesal dan emosi tanpa solusi.
3. Energi positif ini menular. Ketika saya menyampaikan kalimat positif, suami dan anak-anak lebih mudah untuk bekerjasama.

Trimakasih Tim Bunda Sayang IIP, semoga saya dapat konsisten mempelajari dan mengamalkannya.

#aliranrasa
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip 


Sabtu, 04 Februari 2017

Hari 10_Komunikasi Keluargaku_Nevita Siswanti

Sabtu Pagi Ke Sekolah Mas

Pagi tadi ada acara parenting di sekolah Mas tentang Bijak Menggunakan Gadget. Dan Mas juga bertugas tampil baca Yanbu'a.

Sejak semalam saya sudah memberi tahu Adik kalau kita akan pergi ke sekolah Mas pagi-pagi. Mengkondisikan tidur tidak terlalu malam agar bisa bangun pagi. Adik juga tertarik untuk melihat Mas tampil.

Pagi hari hujan. Adik sudah bangun, bersama Mas. Dan sudah diingatkan Mas tentang agenda hari ini. Namun karena cuaca hujan, mereka menganggap masih pagi. Mereka bermain membentuk lilin plastisin.

Jam 7 saya sudah mengingatkan untuk segera mandi karena kita akan berangkat jam 7.45. Acara dimulai 8.30 namun Mas diharapkan latihan dulu dan datang jam 8. Limabelas menit berlalu Mas dan Adik masih belum beranjak. Jam 7.15 saya kembali mengulangi dengan mempraktekkan perintah diganti dengan pilihan.
"Mas, Adik kalian mau main 5 menit lagi lalu mandi atau mandi sekarang dan kalian melanjutkan main saat menunggu Grab datang" saya memberi pilihan.
"Yuk Dik, kita mandi sekarang, nanti lanjutin lagi" Mas memilih mandi dan diikuti Adik.

Alhamdulillaah, tak perlu teriak dan emosi. Memang saya rasakan jika saya tenang dan mempraktekkan komunikasi produktif, anak-anak juga lebih mudah diajak kerjasama. Semoga selalu konsisten belajar terus menjadi lebih baik.

#hari10
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Jumat, 03 Februari 2017

Hari 9_Komunikasi Keluargaku_Nevita Siswanti

Bermain Peran

Semalam kami berempat bermain tebak-tebakan. Awalnya kami saling bergantian memperagakan suatu gerakan, yang lain menebak hewan apakah itu.

Lama-lama tema melebar sampai pada menirukan gerakan orang sedang berbuat apa. Lalu saya ada ide untuk mengetahui bagaimana sikap atau kebiasaan kami sehari-hari yang menjadi kesan anggota keluarga. Mencari bahan evaluasi lewat Permainan, pikir saya.

Ternyata...yang Mas dan Adik peragakan tentang saya adalah saya yang menggunakan komunikasi model lama, sebelum saya praktek ilmu baru komunikasi produktif. Saya yang hanya memerintah dengan kata tanpa intonasi dan bahasa tubuh.

Hari ini saya catat lagi kesalahan saya untuk diperbaiki. Semoga semakin hari semakin membaik.

#hari9
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Kamis, 02 Februari 2017

Hari 8_Komunikasi Keluargaku_Nevita Siswanti

Jas Hujan Ketinggalan

Kemarin pagi hujan. Mas berangkat sekolah pakai jas hujan. Pulang sekolah cuaca nggak hujan. Pas sampai rumah dia baru ingat kalau jas hujannya ketinggalan di sekolah.

Lagi musim hujan begini, saya yang panik, kalau besok pagi hujan lagi, gimana?Langsung deh keceplosan, "Lha kok bisa ketinggalan gimana?Kan Ibu dah ingetin barangnya dicek dulu".
Mas jawab " lupa!" sambil ngotot terus pergi meninggalkan saya.

Astaghfirullaah...deg, saya ingat materi komunikasi produktif. Ya Allah...saya salah, saya masih sering keliru. Mas juga nggak sengaja, dia lupa. Kenapa malah saya pojokkan.

Hari ini saya belajar untuk lebih bisa menahan diri dan mulut dalam memberi respon atas cerita yang datang pada saya. Belajar tidak menghakimi.

Saya hampiri Mas, saya minta maaf. Saya peluk dia. Terima kasih Mas, untuk kesabarannya menemani Ibu belajar.

#hari8
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip