Mencuci Piring dan Menyapu
Pagi tadi yang menyiapkan bekal Arfa adalah ayahnya. Saya masih belum banyak beraktivitas di pagi hari, badan masih lemas. Saya hanya menanyakan apakah semuanya sudah siap, ketika Arfa salim untuk berpamitan, dan ia menjawabnya sudah.
Selama kakaknya sekolah, Yumna di rumah menjaga saya. Beberapa kali ia mengambilkan saya minum dan menawarkan biskuitnya. Trimakasih sholihah...
Saat pulang sekolah Arfa cerita jika tadi bekalnya tidak ada sendoknya. Ia bilang nggak enak kalau Ibu sakit, jd ada yang kurang. Hemmm...rasanya pas ini untuk mengajaknya ngobrol tentang perlunya berlatih mandiri, dari alasan hingga manfaatnya.
Pas mau tidur siang saya cerita tentang kondisi kemarin saat saya sakit. Sebagian besar suami yang mengerjakan, anak-anak membantu beberapa yang mudah. Padahal di usia Arfa harusnya sudah bisa mencuci piring, mengucek bajunya sendiri, membuat dan menyiapkan makan untuk dirinya sendiri. Saya juga minta maaf padanya saya terlambat mengajaknya mempelajarinya. Saya menawarkan bagaimana kalau mulai sekarang dia belajar mencuci piring, mencuci bajunya, memasak sederhana. Arfa tertarik, dia memilih mencuci piring terlebih dahulu.
Sore hari Arfa menjalankan rencananya, ia mencuci piring. Agar tangannya bisa menjangkau bak cuci piring, saya mengusulkan naik kursi. Kali ini dia mau, kadang dia agak takut ketinggian. Saya memberi contoh dan arahan sekali Arfa langsung ketagihan. Ayahnya pulang langsung dikasih peringatan, "Yah, yang cuci piring Mas ya, ingat!"
Melihat kakaknya mencuci piring adiknya berinisiatif menyapu lantai, sebelum saya mengingatkannya. Alhamdulillaah..
Meski kesadaran kami sebagai orangtua terlambat melatih kemandiriannya, semoga kami bisa mendampingi mereka belajar mandiri. Dan saya pun menyemangati diri sendiri, Yes I Can ! In sya Allah.
Bunda Sayang
Melatih Kemandirian
Ibu Professional
IIP