Sabtu, 30 September 2017

Hari10_Cerdas Finansial_Nevita Siswanti

Belajar Jualan

Mas memang suka jualan. Cita-citanya menjadi pedagang. Beberapa kali berjualan pada teman-temannya. Kadang jualan kartu hadiah pasta coklat, kadang juga aneka kreasi buatannya. Harganya sekitar 1000-2000.

Selama ini dia menjual dengan harga yang ia tentukan sendiri, secara suka-suka dia aja. Kadang dia hargai 1000 tapi di hari lain dia ganti dengan promo 1000 dapat dua :-)

Kemarin, saya coba mengajarinya tentang cara menentukan harga. Belum detail, hanya pembuka agar setidaknya dia tahu jualan itu bukan hanya senang saat menerima yang saja, tanpa tahu modal yang harus dikeluarkan.

Seperti saat ia jualan pom-pom dari benang woll. Pada saat membeli benang woll aneka warna, aksesoris mata dan lem nya memakai uang saya. Tentu saja Mas tidak merasa mengeluarkan uangnya. Namun ketika pom-pom nya laku, uangnya dia simpan dalam tabungannya :-)

Saya jelaskan tentang modal yang dikeluarkan untuk membeli bahan-bahan. Dan bahwa uang hasil jualannya itu sebaiknya bisa digunakan untuk belanja bahan-bahan lagi dan bahkan keuntungan yang bisa kita nikmati.

Masih awal belajar untuk jualan. Kami sebagai orangtua nya pun baru belajar jualan. Semoga tercapai cita-cita Mas menjadi pedagang sholih, aamiin.

Ibu Professional
Bunda Sayang
Level 8
Tantangan 10 Hari

Rabu, 27 September 2017

Hari9_Cerdas Finansial_Nevita Siswanti

Rejeki Itu Pasti, Kemuliaan Yang Dicari

Ketika saya harus merekap data pemesan buku salahsatu antologi saya bareng teman-teman ODOP, saya meminta ijin dulu pada Mas dan Adik untuk mengerjakannya. Saya butuh waktu untuk mengecek ongkirnya lalu berkoordinasi dengan penerbit untuk pengirimannya.

Anak-anak mengerti, namun mereka juga ingin tahu apa yang saya lakukan. Mereka bertanya, mengapa saya melakukan itu dan apa saja yang perlu dikerjakan.

Akhirnya saya berhenti juga. Saya jelaskan dulu bahwa saya sedang mencatat orang-orang yang membeli buku saya. Dan datanya ini harus segera diserahkan ke penerbit yang akan mengirimkan bukunya. Saya berjanji setelah selesai mencatat saya akan segera kembali pada mereka.

Mas sudah tak sabar. Melihat saya merapikan buku catatan saya, dia langsung bertanya, " Jadi Ibu nanti dapat uang dari jualan buku ini? Banyak ya Bu? Yang pesan kan banyak"

"Alhamdulillaah. Tapi dari harga buku itu tidak semua untuk Ibu. Dibagi-bagi, ada bagian untuk Penerbit, yang mencetak bukunya, ada bagian untuk para Penulis, termasuk Ibu, ada juga untuk yang menggambar sampul depannya" jelas saya.

"Jadi Ibu dapat berapa? Sedikit dong kalau dibagi-bagi" Mas tampak kecewa.

"Mas, itu rejeki dari Allah. Rejeki nggak hanya uang. Tulisan Ibu dibaca banyak orang juga rejeki. Bersyukur, kita nggak kekurangan"

"Ah, kalau Mas maunya kalau jualan dapat uang banyak" serunya bersemangat.

"Boleh. Yang penting jujur ya. Juga teliti dan hemat tapi shodaqoh harus" tambah saya.

"Iya lah. Sekarang Mas mau nulis juga, kayak Ibu. Entar Ibu tolong kirimin ya biar Mas dapat uang juga kayak Ibu" Mas berlari ke kamarnya.

"Siap. Nanti kalau sudah jadi Ibu baca ya" jawaban saya.

Mas memang tertarik mendapat uang sendiri. Ia pernah berjualan kartu (bonus dari merk pasta coklat) ke teman-temannya. Katanya, daripada cuma untuk main, mending dijual dapat uang :-)

Semoga semangatnya berwirausaha tetap membara sampai nanti. Kita sama-sama belajar ya, Nak...

Ibu Professional
Bunda Sayang
Level 8
Tantangan 10 Hari

Selasa, 26 September 2017

Hari8_Cerdas Finansial_Nevita Siswanti

Bermain Peran

Hari Minggu kemarin kami berencana ke Gramedia. Namun karena mendung bahkan gerimis sudah turun kami mengurungkan niat.

Akhirnya kami bermain di rumah saja. Mas dan Adik bermain peran, ceritanya pergi ke Bandung dan menginap di hotel. Saya kebagian peran menyiapkan makanan yang mereka pesan di hotel.

Sampai pada bagian mereka hendak check out. Mereka berpura-pura berbicara dengan "Mbak hotel" yang mereka suarakan sendiri. Ceritanya mereka menanyakan biaya selama menginap. Setelah dijawab 2 juta oleh "Mbak hotel" Mas menawar 500.000 saja. Saya menahan senyum mendengarnya, emangnya bayar hotel boleh nawar? :-)

Saya tanyakan pada mereka, kenapa menawar biaya hotel. Dijawabnya karena uang mereka tinggal itu saja. Saya sedikit memberi gambaran pada mereka  jika sebelum merencanakan pergi atau belanja, harus diperhitungkan dulu dengan uang yang ada. Jangan sampai kehabisan atau bahkan kekurangan.

Lewat permainan kami bisa belajar tentang mengatur keuangan.

Ibu Professional
Bunda Sayang
Level 8
Tantangan 10 Hari

Sabtu, 23 September 2017

Hari7_Cerdas Finansial_Nevita Siswanti

Rejeki dari Allah

Hari ini kami, saya dan anak-anak banyak bercerita tentang cita-cita. Mas ingin menjadi pedagang dan Adik ingin menjadi dokter hewan.

Saya sisipkan pesan-pesan tentang tauhid. Apa pun profesinya kita harus tetap patuh pada Allah. Cerita pun melebar hingga soal rejeki. Bahwa semua yang kita terima ini adalah pemberian Allah. Dan kelak akan diminta pertanggungjawabannya.

Sampai sini saya pun menarik nafas dalam-dalam. Ini bukan hanya pelajaran untuk Mas dan Adik, namun menampar saya juga. Semoga saya bisa bersama-sama belajar dan menjadi teladan bagi anak-anak.

Ibu Professional
Bunda Sayang
Level 8
Tantangan 10 Hari

Jumat, 22 September 2017

Hari6_Cerdas Finansial_Nevita Siswanti

Jumat Berbagi

Hari ini saya mengingatkan kembali pada Mas dan Adik tentang berbagi. Mas ke sekolah membawa uang untuk infaq. Adik juga. Dan kami juga menyisihkan uang untuk santunan anak yatim. Di rumah kami juga mengumpulkan baju layak pakai untuk ikut bazar pasar murah di sekolah Mas.

Kami sama2 sedang belajar mengelola keuangan dengan benar. Bahwa ada bagian yang menjadi hak orang lain agar tidak kami lupakan. Termasuk untuk saudara2 muslim di Rohingya, Suriah, dan daerah lain. Semoga Allah menjaga konsistensinya....

Ibu Professional
Bunda Sayang
Level 8
Tantangan 10 Hari

Rabu, 20 September 2017

Hari5_Cerdas Finansial_Nevita Siswanti

Hari Jajan

Kemarin, saya sedang banyak kegiatan di luar. Pagi, setelah mengantar Adik ke sekolah, ada pertemuan dengan walimurid untuk persiapan acara Muharom. Siangnya, setelah jemput Adik masak sayur dan lauk lalu lanjut ke sekolah Mas, ada rapat persiapan UTS.

Saya tak sempat membuat cemilan untuk Adik yang akan ia nikmati selama saya rapat di SD. Saya dan Adik sepakat membeli roti bun di jalan menuju SD. Siip..kami berangkat. Selama rapat pun Adik tenang menikmati rotinya. Ternyata rapat selesai cepat, jam 2. Sedangkan Mas pulang jam 3. Tanggung bangeeet...Kalau pulang dulu, nggak lama lagi berangkat lagi jemput Mas. Kalau nunggu di sekolah kok ya nggak enak juga...

Akhirnya kami nunggu di kedai empek-empek dekat sekolah Mas. Saya makan tekwan dan Adik minum es lidah buaya. Waaah..jajan lagi deeh :-)

Dalam perjalanan pulangnya Adik sudah mengantuk. Saya mempercepat laju sepeda sambil terus bicara agar Adik tak tidur di boncengan. Sampai rumah Adik langsung tidur. Bangun menjelang Maghrib dan minta beli roti...Waduuuh jajan lagi?

Saya katakan tadi saya sudah membuatkan pisang panggang keju sewaktu ia tidur. Saya juga tawarkan roti tawar yang tinggal 2 lembar, mau dioles apa? Awalnya dia menolak semua, ia tetap minta roti manis. Saya ingatkan bahwa tadi kita sudah jajan roti bun, es lidah buaya, lalu saya tawarkan bagaimana jika besok lagi jajan roti manisnya? Adik terdiam. Namun tak lama kemudian ia mengangguk dan minta pisang panggangnya.

Malamnya, ayahnya mengingatkan lagi tentang rejeki, bersyukur dan pentingnya berhemat.
"Jika Ibu telah memasak atau membuat kue, kita nikmati makanan buatan Ibu" jelas suami.
"Iya, jadi nggak ada yang mubazir dan kita nggak boros" tambah Mas.
"Adik juga suka kue buatan Ibu" rajuk Adik sambil duduk di pangkuan saya.

Alhamdulillaah, sedikit demi sedikit kami belajar. Semoga istiqomah, in sya Allah..aamiin

Ibu Professional
Bunda Sayang
Level 8
Tantangan 10 Hari






Selasa, 19 September 2017

Hari4_Cerdas Finansial_Nevita Siswanti

Ke Dokter Gigi

Ini kunjungan kami yang ke sekian kalinya mengantar Mas ke dokter gigi. Kalau dihitung lebih banyak giginya yang berlubang daripada yang utuh.

Sudah berulang kali diajarin cara sikat gigi yang benar. Berkali-kali pula diingatkan agar menggosok giginya dengan rajin dan bersih. Tapi entahlah...giginya masih saja berlubang.

Kemarin, usai dari klinik, saya mengajaknya bicara serius. Saya tunjukkan kuitansi biaya pengobatan giginya. Dia kaget, "Mahal ya Bu".

" Dan ini bukan hanya sekali. Coba Mas hitung sudah berapa kali kita ke dokter gigi?" tambah saya.

Dia terdiam. Saya biarkan dia berpikir.

"Coba kalau kita nggak perlu ke dokter gigi, uangnya bisa dipakai untuk yang lain. Misalnya beli buku, udah dapat berapa coba?" saya mengajaknya berpikir.

Esok harinya, Mas menyerahkan cokelat pemberian temannya pada saya.

"Ini untuk Ibu aja. Mas juga udah gosok gigi tadi. Nanti siang Mas mau gosok gigi lagi" katanya.

Saya memeluknya. Saya juga menjelaskan bahwa kita memang harus menyiapkan uang untuk berobat jika sakit. Namun lebih baik kita jaga kesehatan agar tidak sakit, karena sehat itu pasti lebih nyaman.

Alhamdulillaah, saya dan Mas mendapat pelajaran baru dari hikmah sakit giginya. Semoga kami konsisten menjalaninya.

Ibu Professional
Bunda Sayang
Level 8
Tantangan 10 Hari

Senin, 18 September 2017

Hari3_Cerdas Finansial_Nevita Siswanti

Raket Badminton

Saat melihat anak-anak bermain bulutangkis di arena CFD, Mas ingin juga bermain bulutangkis. Saat di rumah, ia mengajukan permintaan membeli raket pada Ayah.

Ayah menanggapinya dengan gembira. Ayah senang Mas tertarik pada olahraga, namun karena membutuhkan raket, kami harus memikirkan terlebih dahulu sebelum membelinya.

Ayah mengajak Mas melihat-lihat di internet harga dan jenis raket yang kira-kira cocok untuk Mas. Namun Ayah tidak berjanji untuk segera membelikannya. Kami harus mengecek dulu kondisi keuangan dan daftar kebutuhan yang lain.

Alhamdulillaah, Mas cukup paham bahwa keinginannya memiliki raket tidak harus dipenuhi saat ini juga. Kami juga menjelaskan bahwa tidak semua keinginan bisa terwujud dalam waktu dekat. Kami mengajaknya berdoa, semoga Allah memberikan rezeki sehingga bisa membeli raket untuknya.

Ibu Professional
Bunda Sayang
Level 8
Tantangan 10 Hari

Minggu, 17 September 2017

Hari2_Cerdas Finansial_Nevita Siswanti

Daftar Belanja

Hari ini jadwal belanja untuk kebutuhan sehari-hari. Saya telah mencatat beberapa keperluan yang akan dibeli. Mulai dari susu, minyak goreng, shampoo, pasta gigi hingga teh kesukaan suami.

Anak-anak senang jika saatnya belanja, karena mereka juga akan ikut membeli barang. Eiiit..tapi bukan sembarang membeli, mereka berdua pun telah menyiapkan catatan yang akan dibeli :-)

Kami telah membatasi maksimal tiga jenis makanan atau minuman untuk masing-masing anak. Itupun masih dengan catatan tidak boleh cokelat, permen dan snack ringan. Mereka sudah paham.

Biasanya Mas memilih biskuit, puding atau nata de coco dan susu atau jus buah. Begitu pula dengan Adik. Kadang juga mereka variasi dengan yogurt atau eskrim.

Untuk batasan belanja alhamdulillaah anak-anak cukup paham. Apalagi Mas, yang suka menghitung dan membandingkan harga. Entah ini kontaminasi dari emaknya atau bakatnya yang mendukung untuk jadi pengusaha :-)

Ibu Professional
Bunda Sayang
Level 8
Tantangan 10 Hari

Jumat, 15 September 2017

Hari1_Cerdas Finansial_Nevita Siswanti

Apakah Ini Kebutuhan?

Pekan ini kami sedang membahas tentang rencana suami yang akan membeli laptop baru. Beliau meminta pertimbangan saya. Sebenarnya kami telah memiliki sebuah laptop. Awalnya suami membelinya untuk mengerjakan tugas-tugasnya. Namun, ternyata saya pun juga sering meminjam dan bahkan lebih sering daripada beliau.

Mempertimbangkan kepentingan kami berdua yang membutuhkan laptop, suami melihat bahwa perlu ada satu laptop lagi. Jika suami tugas ke luar kota, laptop dibawa, sedangkan saya di rumah juga memerlukannya, rasanya harus ada solusi untuk hal ini. Sementara suami sedang menimbang tipe, merk dan harga yang sesuai dengan kondisi kami, saya mengajak anak-anak untuk mendiskusikan hal ini juga.

"Ayah dan Ibu berencana membeli laptop lagi, karena jika ayah ke Kalimantan dan harus bawa laptop, Ibu jadi nggak bisa pakai laptopnya" saya membuka obrolan dengan Mas dan Adik.

"Laptop kan mahal Bu" kata Mas.

"Ayah sedang mencari laptop yang sesuai dengan kebutuhan kita, namun harganya juga sesuai dengan kemampuan kita" jelas saya.

"Nanti laptop yang baru untuk siapa?" tanyanya lagi.

"Ibu belum tahu. Nanti dilihat dulu, yang cocok dengan kebutuhan ayah dipakai ayah. Kita sesuaikan saja" jawab saya.

"Bu, tapi Mas juga udah mulai ada tugas menggambar di Paint. Jadi nanti laptop yang punya Ibu yang ada Paint nya ya, biar Mas bisa pakai" usulnya.

"Oia...coba itu Mas sampaikan pada ayah. Jadi kita beli nanti memang sudah sesuai dengan kebutuhan kita"

"Asiiiik...punya laptop baru!" seru Mas.

"In sya Allah, semoga Allah berikan rejeki jadi kita bisa beli laptop lagi" saya menambahkan.

Malamnya saat makan bersama, kami kembali menegaskan bahwa rencana pembelian barang ini berdasarkan kebutuhan, bukan hanya karena ingin apalagi sekedar gaya-gayaan.

Ibu Professional
Bunda Sayang
Level 8
Tantangan 10 Hari

Sabtu, 09 September 2017

Aliran Rasa_Semua Anak Adalah Bintang_Nevita Siswanti

Setelah belajar materi kali ini, saya makin takjub dengan anak-anak. Saya lebih fokus pada kelebihan mereka. Hal itu lebih membuat saya tenang, bersyukur dan tidak stres menghadapi mereka.

Apalagi ketika melihat mata mereka berbinar saat melakukan kegiatan yang mereka sukai. Aaahh...sungguh banyak hikmah yang justru saya peroleh dari anak-anak. Merekalah sejatinya guru bagi saya.

Teruslah semangat Nak ! Mas dan Adik adalah Bintang keluarga kita !