Rabu, 15 November 2017

Hari9_Think Creative_Nevita Siswanti

Saluran Air Tersumbat

Sejak semalam cucian piring sudah menumpuk. Penyebabnya karena saluran air di bak pencucian piring mampet. Pagi yang lebih heboh dari biasanya.

Sebenarnya punya obat anti sumbat tapi sudah expired, ternyata. Bukan hanya masalah cuci piring, mencuci sayuran pun jadi harus ke kamar mandi. Masalah ini harus segera teratasi.

Emak zaman know nggak kurang bahan. Segera browsing dan mendapat info bahwa soda kue dan garam juga bisa digunakan untuk mengatasi sumbatan.

Segera cek dapur. Adanya baking soda. Nggak tahu ini sama atau nggak ya dengan soda kue, tapi daripada nggak ada saya pakai juga :-) Ditambah garam dan disiram air panas.

Setelah menunggu sekitar 10 menit lalu diguyur air biasa. Alhamdulillaah lumayan lancar. Pas saya lihat di luar memang ada gumpalan yang berhasil lepas dari pipa. Bisa dicoba lah untuk lain waktu tips ini.

#Tantangan10Hari
#Level 9
#KuliahBunSayIIP
#ThinkCreative

Selasa, 14 November 2017

Hari8_Think Creative_Nevita Siswanti

Main Rumah-rumahan

Pagi tadi saya menjemur sprei. Karena mendung, saya masukkan jemuran. Ternyata ketahuan Adik kalau saya menjemur sprei.

Ide kreatifnya langsung muncul. Dia mengambil bonekanya lalu membawanya di bawah jemuran sprei saya.

"Ibu, Adik main di sini ya...ini rumah Adik dan Panda" katanya sambil masuk ke bawah sprei.

Baiklah, harus diapresiasi ini idenya !

Selesai sholat ashar, ternyata Mas juga ikut bergabung ke rumah mainan Adik. Lumayan lah, dapat mainan murah meriah yang menyenangkan :-)

#Tantangan10Hari
#Level 9
#KuliahBunSayIIP
#ThinkCreative

Senin, 13 November 2017

Hari7_Think Creative_Nevita Siswanti

Kardus Bekas

Masih tentang beres-beres. Suami sering keberatan dengan kebiasaan kami bertiga yang mengumpulkan barang bekas, seperti botol, kardus, dan tutup botol.
Beliau sering menyarankan untuk membuang barang simpanan kami.

Tapi kami selalu berhasil mengubahnya menjadi barang berguna. Seperti kali ini, Mas dan Adik membuat tempat kacamata dari kardus bekas. Dengan adanya tempat ini kami akan lebih mudah menemukan kacamata. Dan tentu saja jadi makin rapi, tidak meletakkan kacamata di mana-mana.

Beberapa kardus bekas lain juga mereka jadikan tempat pensil dan aneka tempat mainan mereka yang kecil-kecil.

#Tantangan10Hari
#Level 9
#KuliahBunSayIIP
#ThinkCreative

Minggu, 12 November 2017

Hari6_Think Creative_Nevita Siswanti

Bermain Vaccum Cleaner

Semalam suami menanyakan bagaimana caranya mengajak anak-anak membereskan mainannya dengan suka ria. Saya jelaskan ide saya untuk mengajaknya beres-beres sambil bermain.

Hari ini setelah olahraga di CFD, paha saya terasa pegal dan sakit. Mungkin karena kurang pemanasan dan langsung semangat lari lanjut main bulutangkis. Jadilah pulangnya saya langsung tiduran. Sementara rumah sudah minta dibersihkan.

Ternyata ide saya kemarin diadopsi oleh suami. Dia mengajak anak-anak membersihkan lantai dengan vaccum cleaner. Seperti mendapat mainan baru, mereka dengan semangat menyedot debu dengan gembira.

Alhamdulillaah, selesai juga tugas bersih-bersih tanpa harus menyuruh. Malah disambut dan dilakukan dengan senang.

#Tantangan10Hari
#Level 9
#KuliahBunSayIIP
#ThinkCreative

Sabtu, 11 November 2017

Hari5_Think Creative_Nevita Siswanti

Menyimpan Harta Karun

Hari ini saya sudah merencanakan agenda kebersihan total. Sudah beberapa hari ada semut di dapur. Baru dibersihkan sebentar, sudah datang lagi. Saya belum sempat mencari sumber datangnya semut-semut itu.

Saya sudah berniat bersih-bersih besar nih. Tapi anak-anak malah asyik mainan di lantai. Sudah saya beritahu tentang agenda saya, namun hanya dijawab iya tanpa beranjak.

Mas dan Adik sudah "kreatif" menjawab jika saya mulai bersuara. Saya harus cari cara halus agar mereka tetap bisa asyik tapi mau membantu pekerjaan saya juga.

Saya letakkan sapu. Saya keluarkan beberapa mainan mereka. Saya tawarkan pada mereka bermain menyimpan dan mencari harta karun. Mereka setuju!
Saya memberi contoh, mainan yang sama dikelompokkan menjadi satu lalu dimasukkan dalam kardus atau kotak yang ada. Setelah tersusun, nanti Mas yang menebak kotak manakah yang isinya sesuai dengan yang disebutkan Adik. Jika benar, Mas tempelkan tulisan pada kotak tersebut.

Mereka asyik menata mainan, dan saya melanjutkan rencana saya membersihkan dapur. Sesekali ada sih interupsi dari mereka, tapi bukan hal yang serius. Mereka tetap asyik melakukan tugasnya :-)

Alhamdulillaah, pas suami pulang kaget, kok rumahnya lumayan lebih rapi? Hihihi...
Mas dan Adik juga dengan bangga menceritakan "hasil karya" nya pada ayah. Setidaknya hari ini sudah rapi kan Yah ? Masalah besok berantakan lagi, ya itu sih urusan besok :-)

#Tantangan10Hari
#Level 9
#KuliahBunSayIIP
#ThinkCreative

Jumat, 10 November 2017

Hari4_Think Creative_Nevita Siswanti

Merebus Magic Com

Semalam Mas sudah tertidur saat mengerjakan PR. Bahkan belum selesai. Saking pulasnya sudah susah dibangunkan. Akhirnya bablas sampai pagi.

Ternyata hari ini ada acara makan bergizi. Tiap kelas dibagi beberapa kelompok untuk membawa makanan gizi seimbang, yang terdiri dari karbohidrat, sayuran, protein dan vitamin.  Dan Mas kebagian membawa nasi.

Lha kenapa baru tahu pas pagi-pagi begini? Untung cuma nasi, kalau sayur atau lauk, pasti saya lebih panik lagi.

Meskipun hanya nasi, tapi karena nggak siap, jadi terburu-buru. Apalagi jumlahnya lebih banyak dari yang biasanya harus saya siapkan.

Sambil mencuci beras, tiba-tiba ingat dulu pernah lihat Ibu mertua melakukan hal ini untuk mempercepat waktu. Beras dan air dimasukkan dalam wadah magic com, lalu direbus dulu di atas kompor. Setelah mendidih, baru dimasukkan dalam magic com nya. Alhamdulillaah, lebih cepat "cetrek" nya. Kondisi kepepet kadang memang jadi lebih berani mencoba hal baru.

#Tantangan10Hari
#Level 9
#KuliahBunSayIIP
#ThinkCreative


Kamis, 09 November 2017

Hari3_Think Creative_Nevita Siswanti

Singkong Selimut Wijen

Maksud hati hanya mau defrost freezer kulkas. Eh, ternyata merembet juga bersihin isi kulkas. Memang sudah waktunya juga minta dirapikan lagi barang-barang di kulkas.

Saat membersihkan pintu kulkas, nemu cemilan wijen campur gula, nggak tahu lah apa namanya. Makanan oleh-oleh dari Jawa Timur. Biasalah, anak-anak kalau ada makanan pengen dibuka semua. Pas udah dicoba ternyata kurang suka, ditinggal begitu saja. Mungkin ini saya yang menyimpan di kulkas, maksudnya biar aman juga dari semut, jadi sampai lupa belum dimakan.

Saya tawarkan lagi ke anak-anak, nggak ada yang mau, suami juga kurang suka yang manis. Saya angkat tangan deh kalau harus menghabiskan sendiri :-)

Sambil belanja sambil mikir, itu kue wijen mau diapain. Emak kan paling sayang kalau sampai ada yang nggak kepakai :-p

Aha! Pilihan saya jatuh pada singkong. Sekilo cuma 5.000 terus ditambah tepung terigu yang dicampur tepung bumbu krispi agar gurih, baru dicampur kue wijen tadi. Jadilah adonan tepungnya gurih sedikit manis. Goreng dengan api sedang. Jadilah singkong goreng istimewa, lain dari pada yang lain deh.

Pas disajikan suami dan anak-anak tanya, saya cuma jawab, "Silakan dinikmati kreasi Ibu, singkong selimut wijen"
Mereka bilang enak dan tanya resep dari mana. Saya cuma senyum, andai mereka tahu, itu resep ngasal dan pakai ilmu kira-kira.

Alhamdulillaah, cemilan sore ini tersedia dengan memanfaatkan kue wijen yang kurang disukai, akhirnya berhasil diselamatkan :-)

#Tantangan10Hari
#Level 9
#KuliahBunsayIIP
#ThinkCreative

Selasa, 07 November 2017

Hari2_Think Creative_Nevita Siswanti

Modifikasi Jilbab

Hari ini setelah antar Adik sekolah ada waktu beresin lemari baju. Ternyata nemu beberapa harta karun. Jilbab-jilbab zaman dulu yang lama tak terpakai. Setelah saya buka, ternyata jilbab ukuran kecil. Kalau dipakai nggak sampai dada.

Entah ya, zaman dulu kenapa saya punya jilbab begitu. Lupa juga. Mungkin hadiah dari teman. Atau saya sendiri yang beli karena dulu waktu masih bekerja memang jilbabnya masuk ke baju. Jadi mungkin jilbab kecil masih nggak kelihatan kalau pendek banget.

Sekarang bingung, mau diapain itu jilbab? Kalau dikasih orang, sama aja nyuruh orang pakai jilbab mungil. Kalau untuk anak, lubang mukanya masih kegedean.

Aha! Muncul ide untuk memodifikasi jilbab itu agar menjadi lebar. Disambung dengan kain warna senada, atau seadanya juga tak apa, sekarang kan model tabrak warna juga keren aja :-)

Agar lebih hemat, pakai saja jilbab segiempat yang jarang dipakai juga sebagai kain penyambungnya. Yes! Lumayan pengiritan dan pemanfaatan yang menghasilkan jilbab "baru".

Kalau pun nantinya mau dibagi ke orang sudah layak ini, jilbabnya sudah lebih lebar, sudah menutup dada.

#Tantangan10Hari
#Level 9
#Kelas BunSay IIP
#ThinkCreative

Hari1_Think Creative_Nevita Siswanti

Murojaah Kami

Sudah beberapa hari saya agak kesulitan mengajak Mas dan Adik murojaah. Padahal Mas sudah cukup banyak juga hafalan suratnya. Kalau tidak diulang, khawatir jadi lupa.

Beberapa kali saya ajak ada saja alasannya. Yang nanti lah, yang nunggu malam, yang maunya sama ayah, tapi akhirnya nggak jadi murojaah.

Saya harus berpikir sesuatu yang lain. Saya dapat ide untuk suatu aktivitas terbalik. Jika biasanya Mas yang mengulang hafalannya, dan saya yang menyimak, kali ini dibalik saja.

Saya meminta tolong Mas untuk menyimak hafalan saya.

"Tolong disimak ya Mas, hafalan Ibu bener nggak, termasuk tajwidnya juga" pinta saya.

"Emang Ibu mau Surat apa?" tanyanya.

Saya menyebutkan beberapa Surat pendek. Dan Mas pun menyimak hafalan saya berdasarkan hafalannya. Jika ada yang ragu tentang panjang pendeknya, baru kami sama-sama membuka Quran.

Alhamdulillaah, akhirnya lancar juga murojaah hari ini. Beberapa ayat Mas sempat lupa dan kami kembali membuka Quran untuk meyakinkan diri hafalan siapa yang belum tepat tadi dan harus diperbaiki.

#Tantangan10Hari
#Level 9
#Kuliah BunSay IIP
#ThinkCreative

Minggu, 05 November 2017

Pengalaman Belajar Kreativitas di IIP

Memasuki materi ke-9 Kelas BunSay kali ini sungguh menarik. Awalnya saya hanya tertarik dengan judul materinya, yaitu tentang Kreativitas.

Namun, ternyata di luar dugaan saya sebelumnya. Materi ini disampaikan dengan sangat berbeda dari biasanya. Kami benar-benar diajak berpikir kreatif sejak awal kelas dimulai. Sungguh menyenangkan!

Berbicara tentang kreatifitas, mungkin ada orang yang menganggap itu merupakan bakat. Dan memang benar, kita sebenarnya terlahir dengan kreatif. Namun seiring waktu, kadang membuat kita "kehilangan" kreativitas. Orang dewasa mempunyai banyak batasan dan aturan serta ketakutan yang kadang menghalanginya berpikir dan berbuat kreatif.

Ah, saya baru menyadarinya kini. Selama ini anak-anak lebih kreatif. Mereka bisa berpikir out of the box, mereka berani salah, berani berbeda, tak mudah puas dan tak harus sempurna.

Terima kasih IIP, terima kasih Mas dan Adik, telah membuka mata dan pikiran saya untuk lebih berani berpikir beda. Saya belajar untuk :

1. Mengubah cara berpikir negatif menjadi positif.
Ada kalimat bagus dari Asma Nadia, "Allah tak memberimu jalan buntu". Setiap tantangan pasti ada jalan keluarnya.

2. Perbanyak bertanya, perluas wawasan untuk menemukan ide-ide baru.

3. Berani melangkah. Eksekusi ide dengan cepat
Kadang sebenarnya banyak ide yang muncul, namun karena terlalu banyak dipikirkan, hanya berhenti di angan saja.

4. Jangan terlalu perfeksionis sehingga membuat takut gagal.

5. Berpikir lebih sederhana. Kreatif itu tidak harus rumit.

Bersyukur sekaliii mendapat materi ini. Pas banget dengan hobi saya di bidang menulis, yang mesti mengembangkan imajinasi seluas samudera. Tapi nggak hanya untuk bidang kepenulisan saja, semua bidang juga menuntut kita think creative!

Sumber :

- Diskusi Kelas BunSay Bekasi dengan fasilitator Mbak Diah dan Mbak Azizah, 2017
- Bagaimana Cara Mengembangkan Kreatifitas
http://dictio.id
-Menumbuhkan Kreativitas Dalam Diri
http://idesainesia.com
-Perenungan diri tentang Kreatifitas diri dan keluarga, 2017

#KelasBundaSayang
#InstitutIbuProfesional
#ThinkCreative

Selasa, 10 Oktober 2017

Aliran Rasa_Cerdas Finansial_Nevita Siswanti

Tentang cerdas finansial ini, bukan semata tentang  uang. Namun kali ini kami belajar tentang pengelolaan uang dan konsep rejeki. Bahwa rejeki itu pasti, kemuliaan lah yang harus dicari.

Juga belajar  tentang bedanya keinginan dan kebutuhan, hingga adanya hak Allah dan hak orang lain dalam rejeki yang kita terima.

Terima kasih Bunda Sayang IIP ....masih harus terus belajar...semoga istiqomah, in sya Allah.

Sabtu, 30 September 2017

Hari10_Cerdas Finansial_Nevita Siswanti

Belajar Jualan

Mas memang suka jualan. Cita-citanya menjadi pedagang. Beberapa kali berjualan pada teman-temannya. Kadang jualan kartu hadiah pasta coklat, kadang juga aneka kreasi buatannya. Harganya sekitar 1000-2000.

Selama ini dia menjual dengan harga yang ia tentukan sendiri, secara suka-suka dia aja. Kadang dia hargai 1000 tapi di hari lain dia ganti dengan promo 1000 dapat dua :-)

Kemarin, saya coba mengajarinya tentang cara menentukan harga. Belum detail, hanya pembuka agar setidaknya dia tahu jualan itu bukan hanya senang saat menerima yang saja, tanpa tahu modal yang harus dikeluarkan.

Seperti saat ia jualan pom-pom dari benang woll. Pada saat membeli benang woll aneka warna, aksesoris mata dan lem nya memakai uang saya. Tentu saja Mas tidak merasa mengeluarkan uangnya. Namun ketika pom-pom nya laku, uangnya dia simpan dalam tabungannya :-)

Saya jelaskan tentang modal yang dikeluarkan untuk membeli bahan-bahan. Dan bahwa uang hasil jualannya itu sebaiknya bisa digunakan untuk belanja bahan-bahan lagi dan bahkan keuntungan yang bisa kita nikmati.

Masih awal belajar untuk jualan. Kami sebagai orangtua nya pun baru belajar jualan. Semoga tercapai cita-cita Mas menjadi pedagang sholih, aamiin.

Ibu Professional
Bunda Sayang
Level 8
Tantangan 10 Hari

Rabu, 27 September 2017

Hari9_Cerdas Finansial_Nevita Siswanti

Rejeki Itu Pasti, Kemuliaan Yang Dicari

Ketika saya harus merekap data pemesan buku salahsatu antologi saya bareng teman-teman ODOP, saya meminta ijin dulu pada Mas dan Adik untuk mengerjakannya. Saya butuh waktu untuk mengecek ongkirnya lalu berkoordinasi dengan penerbit untuk pengirimannya.

Anak-anak mengerti, namun mereka juga ingin tahu apa yang saya lakukan. Mereka bertanya, mengapa saya melakukan itu dan apa saja yang perlu dikerjakan.

Akhirnya saya berhenti juga. Saya jelaskan dulu bahwa saya sedang mencatat orang-orang yang membeli buku saya. Dan datanya ini harus segera diserahkan ke penerbit yang akan mengirimkan bukunya. Saya berjanji setelah selesai mencatat saya akan segera kembali pada mereka.

Mas sudah tak sabar. Melihat saya merapikan buku catatan saya, dia langsung bertanya, " Jadi Ibu nanti dapat uang dari jualan buku ini? Banyak ya Bu? Yang pesan kan banyak"

"Alhamdulillaah. Tapi dari harga buku itu tidak semua untuk Ibu. Dibagi-bagi, ada bagian untuk Penerbit, yang mencetak bukunya, ada bagian untuk para Penulis, termasuk Ibu, ada juga untuk yang menggambar sampul depannya" jelas saya.

"Jadi Ibu dapat berapa? Sedikit dong kalau dibagi-bagi" Mas tampak kecewa.

"Mas, itu rejeki dari Allah. Rejeki nggak hanya uang. Tulisan Ibu dibaca banyak orang juga rejeki. Bersyukur, kita nggak kekurangan"

"Ah, kalau Mas maunya kalau jualan dapat uang banyak" serunya bersemangat.

"Boleh. Yang penting jujur ya. Juga teliti dan hemat tapi shodaqoh harus" tambah saya.

"Iya lah. Sekarang Mas mau nulis juga, kayak Ibu. Entar Ibu tolong kirimin ya biar Mas dapat uang juga kayak Ibu" Mas berlari ke kamarnya.

"Siap. Nanti kalau sudah jadi Ibu baca ya" jawaban saya.

Mas memang tertarik mendapat uang sendiri. Ia pernah berjualan kartu (bonus dari merk pasta coklat) ke teman-temannya. Katanya, daripada cuma untuk main, mending dijual dapat uang :-)

Semoga semangatnya berwirausaha tetap membara sampai nanti. Kita sama-sama belajar ya, Nak...

Ibu Professional
Bunda Sayang
Level 8
Tantangan 10 Hari

Selasa, 26 September 2017

Hari8_Cerdas Finansial_Nevita Siswanti

Bermain Peran

Hari Minggu kemarin kami berencana ke Gramedia. Namun karena mendung bahkan gerimis sudah turun kami mengurungkan niat.

Akhirnya kami bermain di rumah saja. Mas dan Adik bermain peran, ceritanya pergi ke Bandung dan menginap di hotel. Saya kebagian peran menyiapkan makanan yang mereka pesan di hotel.

Sampai pada bagian mereka hendak check out. Mereka berpura-pura berbicara dengan "Mbak hotel" yang mereka suarakan sendiri. Ceritanya mereka menanyakan biaya selama menginap. Setelah dijawab 2 juta oleh "Mbak hotel" Mas menawar 500.000 saja. Saya menahan senyum mendengarnya, emangnya bayar hotel boleh nawar? :-)

Saya tanyakan pada mereka, kenapa menawar biaya hotel. Dijawabnya karena uang mereka tinggal itu saja. Saya sedikit memberi gambaran pada mereka  jika sebelum merencanakan pergi atau belanja, harus diperhitungkan dulu dengan uang yang ada. Jangan sampai kehabisan atau bahkan kekurangan.

Lewat permainan kami bisa belajar tentang mengatur keuangan.

Ibu Professional
Bunda Sayang
Level 8
Tantangan 10 Hari

Sabtu, 23 September 2017

Hari7_Cerdas Finansial_Nevita Siswanti

Rejeki dari Allah

Hari ini kami, saya dan anak-anak banyak bercerita tentang cita-cita. Mas ingin menjadi pedagang dan Adik ingin menjadi dokter hewan.

Saya sisipkan pesan-pesan tentang tauhid. Apa pun profesinya kita harus tetap patuh pada Allah. Cerita pun melebar hingga soal rejeki. Bahwa semua yang kita terima ini adalah pemberian Allah. Dan kelak akan diminta pertanggungjawabannya.

Sampai sini saya pun menarik nafas dalam-dalam. Ini bukan hanya pelajaran untuk Mas dan Adik, namun menampar saya juga. Semoga saya bisa bersama-sama belajar dan menjadi teladan bagi anak-anak.

Ibu Professional
Bunda Sayang
Level 8
Tantangan 10 Hari

Jumat, 22 September 2017

Hari6_Cerdas Finansial_Nevita Siswanti

Jumat Berbagi

Hari ini saya mengingatkan kembali pada Mas dan Adik tentang berbagi. Mas ke sekolah membawa uang untuk infaq. Adik juga. Dan kami juga menyisihkan uang untuk santunan anak yatim. Di rumah kami juga mengumpulkan baju layak pakai untuk ikut bazar pasar murah di sekolah Mas.

Kami sama2 sedang belajar mengelola keuangan dengan benar. Bahwa ada bagian yang menjadi hak orang lain agar tidak kami lupakan. Termasuk untuk saudara2 muslim di Rohingya, Suriah, dan daerah lain. Semoga Allah menjaga konsistensinya....

Ibu Professional
Bunda Sayang
Level 8
Tantangan 10 Hari

Rabu, 20 September 2017

Hari5_Cerdas Finansial_Nevita Siswanti

Hari Jajan

Kemarin, saya sedang banyak kegiatan di luar. Pagi, setelah mengantar Adik ke sekolah, ada pertemuan dengan walimurid untuk persiapan acara Muharom. Siangnya, setelah jemput Adik masak sayur dan lauk lalu lanjut ke sekolah Mas, ada rapat persiapan UTS.

Saya tak sempat membuat cemilan untuk Adik yang akan ia nikmati selama saya rapat di SD. Saya dan Adik sepakat membeli roti bun di jalan menuju SD. Siip..kami berangkat. Selama rapat pun Adik tenang menikmati rotinya. Ternyata rapat selesai cepat, jam 2. Sedangkan Mas pulang jam 3. Tanggung bangeeet...Kalau pulang dulu, nggak lama lagi berangkat lagi jemput Mas. Kalau nunggu di sekolah kok ya nggak enak juga...

Akhirnya kami nunggu di kedai empek-empek dekat sekolah Mas. Saya makan tekwan dan Adik minum es lidah buaya. Waaah..jajan lagi deeh :-)

Dalam perjalanan pulangnya Adik sudah mengantuk. Saya mempercepat laju sepeda sambil terus bicara agar Adik tak tidur di boncengan. Sampai rumah Adik langsung tidur. Bangun menjelang Maghrib dan minta beli roti...Waduuuh jajan lagi?

Saya katakan tadi saya sudah membuatkan pisang panggang keju sewaktu ia tidur. Saya juga tawarkan roti tawar yang tinggal 2 lembar, mau dioles apa? Awalnya dia menolak semua, ia tetap minta roti manis. Saya ingatkan bahwa tadi kita sudah jajan roti bun, es lidah buaya, lalu saya tawarkan bagaimana jika besok lagi jajan roti manisnya? Adik terdiam. Namun tak lama kemudian ia mengangguk dan minta pisang panggangnya.

Malamnya, ayahnya mengingatkan lagi tentang rejeki, bersyukur dan pentingnya berhemat.
"Jika Ibu telah memasak atau membuat kue, kita nikmati makanan buatan Ibu" jelas suami.
"Iya, jadi nggak ada yang mubazir dan kita nggak boros" tambah Mas.
"Adik juga suka kue buatan Ibu" rajuk Adik sambil duduk di pangkuan saya.

Alhamdulillaah, sedikit demi sedikit kami belajar. Semoga istiqomah, in sya Allah..aamiin

Ibu Professional
Bunda Sayang
Level 8
Tantangan 10 Hari






Selasa, 19 September 2017

Hari4_Cerdas Finansial_Nevita Siswanti

Ke Dokter Gigi

Ini kunjungan kami yang ke sekian kalinya mengantar Mas ke dokter gigi. Kalau dihitung lebih banyak giginya yang berlubang daripada yang utuh.

Sudah berulang kali diajarin cara sikat gigi yang benar. Berkali-kali pula diingatkan agar menggosok giginya dengan rajin dan bersih. Tapi entahlah...giginya masih saja berlubang.

Kemarin, usai dari klinik, saya mengajaknya bicara serius. Saya tunjukkan kuitansi biaya pengobatan giginya. Dia kaget, "Mahal ya Bu".

" Dan ini bukan hanya sekali. Coba Mas hitung sudah berapa kali kita ke dokter gigi?" tambah saya.

Dia terdiam. Saya biarkan dia berpikir.

"Coba kalau kita nggak perlu ke dokter gigi, uangnya bisa dipakai untuk yang lain. Misalnya beli buku, udah dapat berapa coba?" saya mengajaknya berpikir.

Esok harinya, Mas menyerahkan cokelat pemberian temannya pada saya.

"Ini untuk Ibu aja. Mas juga udah gosok gigi tadi. Nanti siang Mas mau gosok gigi lagi" katanya.

Saya memeluknya. Saya juga menjelaskan bahwa kita memang harus menyiapkan uang untuk berobat jika sakit. Namun lebih baik kita jaga kesehatan agar tidak sakit, karena sehat itu pasti lebih nyaman.

Alhamdulillaah, saya dan Mas mendapat pelajaran baru dari hikmah sakit giginya. Semoga kami konsisten menjalaninya.

Ibu Professional
Bunda Sayang
Level 8
Tantangan 10 Hari

Senin, 18 September 2017

Hari3_Cerdas Finansial_Nevita Siswanti

Raket Badminton

Saat melihat anak-anak bermain bulutangkis di arena CFD, Mas ingin juga bermain bulutangkis. Saat di rumah, ia mengajukan permintaan membeli raket pada Ayah.

Ayah menanggapinya dengan gembira. Ayah senang Mas tertarik pada olahraga, namun karena membutuhkan raket, kami harus memikirkan terlebih dahulu sebelum membelinya.

Ayah mengajak Mas melihat-lihat di internet harga dan jenis raket yang kira-kira cocok untuk Mas. Namun Ayah tidak berjanji untuk segera membelikannya. Kami harus mengecek dulu kondisi keuangan dan daftar kebutuhan yang lain.

Alhamdulillaah, Mas cukup paham bahwa keinginannya memiliki raket tidak harus dipenuhi saat ini juga. Kami juga menjelaskan bahwa tidak semua keinginan bisa terwujud dalam waktu dekat. Kami mengajaknya berdoa, semoga Allah memberikan rezeki sehingga bisa membeli raket untuknya.

Ibu Professional
Bunda Sayang
Level 8
Tantangan 10 Hari

Minggu, 17 September 2017

Hari2_Cerdas Finansial_Nevita Siswanti

Daftar Belanja

Hari ini jadwal belanja untuk kebutuhan sehari-hari. Saya telah mencatat beberapa keperluan yang akan dibeli. Mulai dari susu, minyak goreng, shampoo, pasta gigi hingga teh kesukaan suami.

Anak-anak senang jika saatnya belanja, karena mereka juga akan ikut membeli barang. Eiiit..tapi bukan sembarang membeli, mereka berdua pun telah menyiapkan catatan yang akan dibeli :-)

Kami telah membatasi maksimal tiga jenis makanan atau minuman untuk masing-masing anak. Itupun masih dengan catatan tidak boleh cokelat, permen dan snack ringan. Mereka sudah paham.

Biasanya Mas memilih biskuit, puding atau nata de coco dan susu atau jus buah. Begitu pula dengan Adik. Kadang juga mereka variasi dengan yogurt atau eskrim.

Untuk batasan belanja alhamdulillaah anak-anak cukup paham. Apalagi Mas, yang suka menghitung dan membandingkan harga. Entah ini kontaminasi dari emaknya atau bakatnya yang mendukung untuk jadi pengusaha :-)

Ibu Professional
Bunda Sayang
Level 8
Tantangan 10 Hari

Jumat, 15 September 2017

Hari1_Cerdas Finansial_Nevita Siswanti

Apakah Ini Kebutuhan?

Pekan ini kami sedang membahas tentang rencana suami yang akan membeli laptop baru. Beliau meminta pertimbangan saya. Sebenarnya kami telah memiliki sebuah laptop. Awalnya suami membelinya untuk mengerjakan tugas-tugasnya. Namun, ternyata saya pun juga sering meminjam dan bahkan lebih sering daripada beliau.

Mempertimbangkan kepentingan kami berdua yang membutuhkan laptop, suami melihat bahwa perlu ada satu laptop lagi. Jika suami tugas ke luar kota, laptop dibawa, sedangkan saya di rumah juga memerlukannya, rasanya harus ada solusi untuk hal ini. Sementara suami sedang menimbang tipe, merk dan harga yang sesuai dengan kondisi kami, saya mengajak anak-anak untuk mendiskusikan hal ini juga.

"Ayah dan Ibu berencana membeli laptop lagi, karena jika ayah ke Kalimantan dan harus bawa laptop, Ibu jadi nggak bisa pakai laptopnya" saya membuka obrolan dengan Mas dan Adik.

"Laptop kan mahal Bu" kata Mas.

"Ayah sedang mencari laptop yang sesuai dengan kebutuhan kita, namun harganya juga sesuai dengan kemampuan kita" jelas saya.

"Nanti laptop yang baru untuk siapa?" tanyanya lagi.

"Ibu belum tahu. Nanti dilihat dulu, yang cocok dengan kebutuhan ayah dipakai ayah. Kita sesuaikan saja" jawab saya.

"Bu, tapi Mas juga udah mulai ada tugas menggambar di Paint. Jadi nanti laptop yang punya Ibu yang ada Paint nya ya, biar Mas bisa pakai" usulnya.

"Oia...coba itu Mas sampaikan pada ayah. Jadi kita beli nanti memang sudah sesuai dengan kebutuhan kita"

"Asiiiik...punya laptop baru!" seru Mas.

"In sya Allah, semoga Allah berikan rejeki jadi kita bisa beli laptop lagi" saya menambahkan.

Malamnya saat makan bersama, kami kembali menegaskan bahwa rencana pembelian barang ini berdasarkan kebutuhan, bukan hanya karena ingin apalagi sekedar gaya-gayaan.

Ibu Professional
Bunda Sayang
Level 8
Tantangan 10 Hari

Sabtu, 09 September 2017

Aliran Rasa_Semua Anak Adalah Bintang_Nevita Siswanti

Setelah belajar materi kali ini, saya makin takjub dengan anak-anak. Saya lebih fokus pada kelebihan mereka. Hal itu lebih membuat saya tenang, bersyukur dan tidak stres menghadapi mereka.

Apalagi ketika melihat mata mereka berbinar saat melakukan kegiatan yang mereka sukai. Aaahh...sungguh banyak hikmah yang justru saya peroleh dari anak-anak. Merekalah sejatinya guru bagi saya.

Teruslah semangat Nak ! Mas dan Adik adalah Bintang keluarga kita !

Rabu, 30 Agustus 2017

Hari10_Semua Anak Adalah Bintang_Nevita Siswanti

HP dan Laptop

Pemakaian HP oleh anak-anak memanggil kami batasi. Kami menjelaskan bahwa HP digunakan untuk menelpon nenek, saudara, untuk belajar, misalnya mencari resep masakan dan mencari berbagai informasi yang diperlukan.

Mas sudah tahu itu. Jika perlu pun ia akan minta ijin dulu. Namun, teenyata meski tidak diajari secara detail, ia bisa mengutak atik HP hingga berubah beberapa settingannya :-)

Pernah tiba-tiba ia menunjukkan bahwa password HP saya adalah begini dan begitu, ia menjelaskan. Ketika saya tanya, tahu dari mana ia jawab tahu sendiri. Mas pencet pencet coba aja, katanya. Rupanya ia asyik utak atik setting an HP :-)

Ketika melihat saya sering menggunakan laptop, ia juga minta ijin ingin pinjam. Dan saya melihatnya ia asyik pencet pencet membuat tulisan cantik dan gambar sebuah rumah. Lah...tadinya saya pikir akan ikut mengetik biasa seperti saya, ternyata yang ia hasilkan lain. Bahkan saya pun belum tahu bagaimana bisa ada cara seperti itu, ternyata :-D

Semoga keasyikannya itu menjadikannya orang yang bermanfaat di bidangnya ya Nak...memanfaatkan teknologi untuk karya terbaik, aamiin.

Semua Anak Adalah Bintang
IIP
Bunda Sayang

Senin, 28 Agustus 2017

Hari9_Semua Anak Adalah Bintang_Nevita Siswanti

Berani Tampil

Saya dan suami termasuk orang yang kurang suka tampil. Jika ada acara, kami lebih memilih bagian di balik layar. Namun ternyata Mas berbeda. Anak sulung kami lebih percaya diri maju dan tampil di beberapa atau hampir setiap kesempatan.

Sejak TK ia sudah berani tampil. Saat acara akhirussanah, ia menjadi pemimpin koor, juga pembaca puisi dan pemain drumb band. Pada waktu SD dua tahun berturut-turut menjadi ketua kelas. Kelas tiga ini dia yang tidak mau menjadi ketua kelas karena ingin menjadi PJ Kebersihan :-)

Beberapa kali anak-anak ikut saya seminar atau workshop. Saat pembicara menawarkan challenge, saya yang kurang suka tampil ke depan dipaksa Mas untuk ikut challenge dan maju. Jika saya menolak, dia akan menasihati saya panjang lebar :-)
Yeah..alhamdulillaah saya diajarkan untuk berani tampil oleh Sang Guru istimewa, Bintang keluarga !

Hampir di setiap acara untuk anak, misalnya Festival Dongeng, DaVinci Learning di Habibie Festival, atau Lomba 17an di RT Mas selalu antusias untuk maju dan ikut serta. Hingga, semangat itu juga menular ke Adik. Dan, ia ajarkan pada kami, orangtua nya.

Semua Anak Adalah Bintang
IIP
Bunda Sayang

Minggu, 27 Agustus 2017

Hari8_Semua Anak Adalah Bintang_Nevita Siswanti

Ketinggian, Tangga dan Latihan

Hari ini kami manfaatkan waktu untuk bersama ayah sebagai pelepas rindu setelah dua pekan tidak bertemu. Karena ayah ada perlu mencari sesuatu, jadi kami ikut pergi ke supermarket bangunan bersamanya.

Memasuki gedungnya dan berkeliling mencari, ternyata lokasi barang yang dicari ada di lantai atas. Kami harus menaiki escalator berbentuk tangga. Seperti biasanya, Mas agak takut menaikinya. Dia memang agak takut pada ketinggian.  Apalagi sambil bergerak tangganya. Pernah dulu saya hanya pergi bertiga saja dengan anak-anak dan Mas nggak berani naik escalator. Dan Mas memilih mengajak pulang daripada menaiki escalator.

Sejak saat itu, saya sering mengajaknya berlatih mendaki. Yah, meski hanya bukit namun cukup untuk melatihnya agar mengurangi ketakutannya pada ketinggian. Meski begitu, saya tetap menyampaikan padanya bahwa tiap orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tak perlu harus jadi pemberani jika memang Mas tak menyukainya. Untuk jadi orang hebat tak semuanya harus berani naik turun tangga :-)

Alhamdulillaah, hari ini ia sudah tak begitu takut lagi untuk naik escalator, meski masih sedikit ragu dalam melangkah. Setidaknya ia telah berusaha untuk melawan rasa takutnya. Tak perlu dibandingkan dengan orang lain. Yang jelas, Mas telah lebih berani dibandingkan dirinya sendiri beberapa waktu lalu.

Semua Anak Adalah Bintang
IIP
Bunda Sayang

Sabtu, 26 Agustus 2017

Hari7_Semua Anak Adalah Bintang_Nevita Siswanti

Murah Hati

Sehari-hari memang Adik lebih sering dengan saya. Hampir ke mana pun saya pergi ia selalu ikut serta. Di setiap kegiatan saya di rumah juga ia selalu mengikuti.

Meski saya kadang tak mengajaknya ikut serta dalam kegiatan yang saya lakukan, ia berinisiatif untuk ikut juga. Namun saya perhatikan ia memang suka dalam melakukannya. Ketika saya memasak, ia tiba-tiba menghampiri saya dan membantu memotong sayuran. Atau ketika saya mencuci baju, ia juga datang dan membantu mengucek kaos kakinya.

Sikapnya yang sering membantu itu ternyata bukan hanya pada saya. Ketika Mas sibuk mencari sesuatu, ia juga ikut membantu tanpa diminta. Pun ketika saya meminta Mas membereskan mainannya, namun lagi-lagi Adik yang bergerak lebih dulu. Dan itu ia lakukan atas kemauannya sendiri, dengan ceria.

Ada kebiasaannya juga yang membuat saya terharu. Ia selalu menyiapkan sandal saya, ayahnya dan Mas ketika kami sholat di masjid. Pada waktu kami keluar dan hendak memakai sandal, maka Adik telah menata sandal-sandal kami dalam posisi siap pakai, menghadap ke depan.

Ma sya Allah Dik...we love you..Dalam usiamu 5 tahun ini kamu telah banyak memberi pelajaran pada kami. Tetaplah menjadi Bintang keluarga....

Semua Anak Adalah Bintang
IIP
Bunda Sayang

Jumat, 25 Agustus 2017

Hari6_Semua Anak Adalah Bintang_Nevita Siswanti

Supaya Banyak Pahala

Hari ini Mas sekolah membawa uang saku Rp 4.000. Biasanya nggak bawa uang karena sudah bawa bekal makanan. Tapi khusus hari Jumat boleh membawa uang untuk infaq.

Pulang sekolah Mas cerita kalau uangnya ia infakkan di sekolah Rp 1.000, lalu untuk jajan dirinya Rp 1.000 terus membelikan es kakak kelas Rp 1.000. Sampai sini saya tanya, kenapa membelikan kakak kelas? Ternyata jawabannya adalah, "Nggak papa Bu, biar dapet pahala"

Ya Allaah...anak ini memang saya perhatikan niatnya karena Allah jika beramal. Pernah mau ke masjid ia membawa uang Rp 50.000 pemberian dari neneknya, katanya mau untuk infak semua, biar banyak pahalanya.

Dan ia masih melanjutkan ceritanya, uangnya sisa Rp 1.000 Mas berikan pada orang tua di depan masjid tadi, dia minta-minta. Mas cuma punya Rp 1.000 jadi itu saja aku kasih.

Ma sya Allah...semoga istiqomah ya Nak...jiwa sosialnya...semoga Allah kabulkan doamu, ingin menjadi pengusaha yang dermawan, aamiin.

Semua Anak Adalah Bintang
IIP
Bunda Sayang

Kamis, 24 Agustus 2017

Hari5_Semua Anak Adalah Bintang_Nevita Siswanti

Pesanan Pom-pom

Kemarin pulang sekolah Mas cerita kalau temannya minta dibuatkan pom-pom dan akan membayarnya. Mas senang sekali. Sampai rumah ia langsung membuat pom-pom lagi.

Ma sya Allah, dari 4E Mas telah mencapai semuanya. Ia begitu enjoy dan easy menjalaninya, excellent hingga earn menghasilkan uang. Di usianya yang baru 8 tahun ia sudah bisa berjualan hasil karyanya sendiri.  Hal ini memang sejalan dengan cita-citanya yang ingin menjadi pedagang. Semoga tercapai ya Mas, pengusaha muslim yang sholih, aamiin.

Mas menjual pom-pom nya harga Rp 2.000 tanpa mata dan mulut. Jika lengkap dengan mata dan mulut ia jual seharga Rp 3.000. Dan hari ini Mas berhasil membawa pulang uang Rp 2.000 karena ia baru bisa membuat satu pom-pom untuk temannya, tanpa mata dan mulut.

"Masih ada pesanan lagi Bu, Fauziah, Mayla dan Teges pesan juga" ceritanya pada saya siang ini.

Saya menciumnya. Meleleh hati saya, terima kasih Nak, Ibu banyak belajar padamu, Sang Bintang Keluarga !

Semua Anak Adalah Bintang
IIP
Bunda Sayang

Rabu, 23 Agustus 2017

Hari 4_Semua Anak Adalah Bintang_Nevita Siswanti

Mempersiapkan Hewan Qurban

Pekan kemarin, sebelum suami pergi ke Kalimantan sudah berpesan agar saya dan anak-anak yang memilih kambing untuk qurban nanti. Menurut info yang beliau peroleh, hewan akan tiba di masjid sepuluh hari sebelum hari raya.

Maka kemarin saya dan anak-anak pergi ke masjid untuk memenuhi amanat suami. Kami memilih kambing sesuai type yang telah dipesan suami. Saya kembali mengingatkan bahwa kita akan berkurban di hari raya Idul Adha pekan depan. Anak-anak senang melihat dan memberi makan hewan-hewan tsb.

Hingga perjalanan pulang dan sampai rumah anak-anak masih membahas tentang mengapa kita harus berqurban dan beberapa sunnah di awal bulan Dzulhijjah ini. Alhamdulillaah mereka antusias menyambut Idul Adha. Mereka juga senang telah memilih kambing untuk qurban nanti. Mereka belajar menaati perintah Allah.

Semua Anak Adalah Bintang
IIP
Bunda Sayang

Senin, 21 Agustus 2017

Hari3_Semua Anak Adalah Bintang_Nevita Siswanti

Adik Suka Menari

Kemarin, sambil menunggu waktu untuk menjemput Mas, saya dan Adik bermain boneka. Ada beberapa boneka hewan yang kita mainkan. Adik mengambil beberapa aksesorisnya, seperti bando, kalung dan jam tangan miliknya untuk dipakaikan pada boneka-bonekanya.

"Ibu, ini mereka lagi pakai kostum ya, karena mau menari, ceritanya lagi mau tampil" jelasnya pada saya seraya memakaikan aneka aksesoris tadi pada boneka.

"Waaah..jadi cantik ya" puji saya sambil mengacungkan jempol.

Saya kagum pada idenya. Saya tersenyum melihat ia menggerakkan boneka-boneka itu untuk menari.

Saya jadi teringat memang Adik terlihat senang menari. Saat melihat acara anak-anak di TVRI, ada kakak-kakak menari, dia langsung berdiri dan ikut menirukan gerakannya. Saat menghadiri akhirussanah Mas, melihat ada penampilan kakak yang menari, ia juga ikut menggerakan badannya. Saya masih ingat wajahnya yang bahagia ketika tangannya ikut melambai-lambai mengikuti gerakan yang ia lihat. Di rumah pun, ia sering meminta putarkan lagu senam ataupun lagu daerah untuk mengiringinya menari.

Dan kemarin, ia tiba-tiba minta dibantu melilitkan kain selendang di pinggangnya, untuk menari katanya. Dia lalu menggerak-gerakkan selendangnya ke kanan dan ke kiri. Dia tersenyum, sambil berputar-putar. Senangnyaaa...

Ternyata ada darah seni yang mengalir di diri Adik. Hehehe...sebenarnya tak begitu heran, karena saya dulu juga suka menari. Tapi melihatnya berbinar-binar, dan berani mengekspresikan diri, itu luar biasa bagi saya. Dia telah menjadi bintang keluarga kami.

Semua Anak Adalah Bintang
IIP
Bunda Sayang

Hari2_Semua Anak Adalah Bintang_Nevita Siswanti

Membuat Donat

Kemarin Adik request cemilan donat. Mas mengusulkan agar kami membuat sendiri saja. Mereka berdua siap membantu.

Okelah, setelah melihat resep dan mengecek bahan-bahannya ternyata telah tersedia, kami pun membuatnya bersama-sama. Saya memang membantu bagian menguleninya. Mereka sudah tak sabar ingin membentuk donatnya sesuai kreasi masing-masing.

Setelah menunggu 30 menit, mereka dengan gembira membentuk adonan penuh semangat. Mas membuat bentuk kotak, seperti mobil, katanya. Sedangkan Adik membentuknya menjadi bulatan kecil, seperti bola dan bentuk-bentuk lonjong seperti guling, katanya :-)
Itulah donat-donat kreasi mereka dengan imajinasi keren. Hasil karya bintang keluarga kami yang dikerjakan dengan happy and enjoy, yeah !

Semua Anak Adalah Bintang
IIP
Bunda Sayang

Minggu, 20 Agustus 2017

Hari1_Semua Anak Adalah Bintang_Nevita Siswanti

Membuat Pom-pom dari Benang Woll

Hari Rabu kemarin Mas telah diajarkan membuat pompom dari benang woll di sekolahnya. Ia menceritakan bahwa ia telah bisa membuat pom-pom. Ia juga mengatakan bahwa ia siap membuatkan pom-pom untuk adik jika tersedia bahan-bahannya.

Hari Jumat kami berbelanja bahan-bahan yang dibutuhkan. Kami membeli tiga warna benang wol, kain flanel, mata boneka dan lem.

Sorenya Mas telah asyik membuat pompom. Ia bisa mengerjakannya sendiri, tanpa bantuan saya. Ia berhasil membuat tiga pom-pom sesuai kreasinya. Aaahh...kelihatan dia enjoy menjalaninya. Jika tak saya ingatkan, ia bisa lupa waktu :-)
Ia senang membuat suatu kerajinan, yang ia sebut sebagai kreasi. Yeah...inilah salahsatu bintang keluarga kami.

Semua Anak Adalah Bintang
IIP
Bunda Sayang

Sabtu, 12 Agustus 2017

Aliran Rasa Menstimulus Matematika Logis_Nevita Siswanti

Dulu..menurut saya matematika itu melulu soal hitungan..
Dan akan susah jika mengajarkannya pada anak-anak. Lha yang dewasa saja masih sering takut pada matematika, bagaimana dengan anak?

Tapi..ternyata matematika tak hanya tentang angka. Dengannya kita bisa belajar berpikir logis. Itulah yang pertama saya ingat dari materi BunSay kali ini. Daan..matematika bisa dipelajari dengan menyenangkan sambil bermain. Wow..ini lebih keren lagi..Anak-anak bisa mulai mempelajarinya tanpa merasa sedang belajar.

Terima kasih BunSay, kini kami menyadari matematika ada di sekitar kita...dan kami menyukainya.

ILoveMath
MathAroundUs

Kamis, 03 Agustus 2017

Hari10_Nevita Siswanti_Menstimulus Matematika Logis

Menghitung Kaki Kucing

Tadi pagi, sewaktu berangkat sekolah saya dan Adik menemukan kucing di jalan. Awalnya saya hanya menunjukkan padanya ada kucing di jalan yang kami temui.

Ternyata Adik malah berinisiatif menghitung berapa kucing yang kami temui di sepanjang jalan dari rumah hingga sekolah. Saya pun menambahkan materi belajar matematika pada kesempatan itu. Saya tanyakan berapa kaki kucing. Adik sudah tahu, ia menjawab empat. Nah, jika tadi kita telah bertemu dua lkucing jadi ada berapa semua kaki kucing yang kita lihat pagi ini?

Sambil berboncengan kami menghitungnya bersama. Empat tambah empat jadi delapan. Perlahan Adik mulai berkenalan dengan konsep perkalian. Masih perlu lebih banyak lagi bermain seru untuk menikmati matematika dengan asyik.

IIP
KuliahBunSay
ILoveMath
MathAroundUs

Rabu, 02 Agustus 2017

Hari9_Nevita Siswanti_Menstimulus Matematika Logis

Bermain Congklak

Hari ini Mas sudah mulai ekskul. Jadi siang tadi Adik main berdua saja dengan saya.

Kami bermain congklak. Kami mengisinya tiga-tiga. Lalu bermain dan menghitungnya siapa yang paling banyak.

Kami mengulanginya lagi. Kini kami isi lubangnya masing-masing empat. Lalu bermain dan menghitung hasilnya. Adik yang menang. Dia gembira. Ternyata seru juga main congklak yaa...

Alhamdulillaah, lewat congklak jadi bisa untuk belajar menghitung sampai puluhan.

IIP
KuliahBunSay
ILoveMath
MathAroundUs

Selasa, 01 Agustus 2017

Hari8_Nevita Siswanti_Menstimulus Matematika Logis

Belajar Memilah

Kemarin saya mengajak Adik untuk menghitung uang hasil pemberian nenek, kakek dan saudara-saudara saat lebaran kemarin. Rencananya mau saya masukin bank, supaya lebih aman dari ancaman untuk jajan mereka :-)

Ternyata uangnya bermacam-macam. Ada yang ratusan ribu, lima puluhan ribu, dua puluhan ribu, sepuluh ribu dan lima ribuan, serta dua ribuan.

Adik saya minta untuk memisahkan uang-uang tersebut berdasarkan nominalnya dan warna uangnya. Harapan saya agar ia bisa belajar mengelompokkan berdasarkan warna, juga bisa mengenal nominal uang.

Kini ia tahu uang sepuluh ribu yang mana, dua puluh ribu yang mana, sehingga ketika saya minta tolong diambilkan uang untuk membeli sayur ia sudah tahu.

IIP
KuliahBunSay
ILoveMath
MathAroundUs

Senin, 31 Juli 2017

Hari7_Nevita Siswanti_Menstimulus Matematika Logis

Membandingkan

Hari Minggu Mas dan Adik menemani saya berbelanja. Ada beberapa kebutuhan bulanan yang habis. Kami sudah mencatat barang-barang yang akan dibeli.

Ketika memilih susu UHT, kami berada di dekat rak juice kemasan. Mas dan Adik ingin membelinya. Setelah berdiskusi, kami menyetujuinya dengan catatan mereka tidak boleh membeli snack lebih dari dua jenis, termasuk juice kemasan. Dan mereka setuju.

Saat memilih merk juice yang akan dibeli, Mas membacanya terlebih dulu. Dia sudah terbiasa mencari label halalnya. Sekarang, saya mengajari nya juga membaca komposisinya. Saya ajari ia membandingkan mana kandungan sari buah yang lebih banyak diantara merk yang ada. Lalu ia juga membandingkan harganya.

Setelah menimbang dengan seksama Mas memilih suatu merk yang kandungan sari buahnya lumayan tinggi namun juga harganya tidak terlalu tinggi. Alhamdulillaah, kami mengajarinya bukan termakan iklan saja, namun selektif sesuai kebutuhan dan kemampuan.

IIP
KuliahBunSay
ILoveMath
MathAroundUs


Minggu, 30 Juli 2017

Hari6_Nevita Siswanti_Menstimulus Matematika Logis

Mengukur Panjang

Rencananya, ayah akan memesan rak buku baru. Telah beberapa buku menumpuk di meja bahkan ada yang tergeletak di lantai.

Untuk memesannya, ayah mengukur terlebih dahulu berapa ukuran yang pas disesuaikan dengan lokasi di mana nanti rak akan diletakkan.

Mas dan Adik ikut memperhatikan kegiatan ayah. Kesempatan ini saya manfaatkan untuk mengenalkan ukuran panjang, serta cara pengukurannya.

Kami menggunakan penggaris dan meteran sebagai alat ukurnya. Kami juga mengenalkan satuan panjang, sementara baru sentimeter dan meter.

Mas dan Adik belajar mengukur. Mereka bergantian saling mengukur barang-barang mainannya.

IIP
KuliahBunSay
ILoveMath
MathAroundUs

Sabtu, 29 Juli 2017

Hari5_Nevita Siswanti_Menstimulus Matematika Logis

Mengenal Bentuk Geometri

Hari ini Mas masuk sekolah sebagai pengganti hari Senin yang libur karena sekolah direnovasi. Jadilah Adik main berdua saja dengan saya.

Adik mengajak bermain mencari harta karun. Ia yang menggambar petanya. Katanya telah diajari Mas. Saya menawarkan mencari harta karunnya sesuai bentuknya yang ditentukan. Ia setuju.

Saya mencoba mengenalkan berbagai bentuk geometri melalui permainan ini. Adik dan saya mencari harta karun yang sesuai dengan petunjuk dalam peta. Misalnya ditemukan petunjuk lingkaran, berarti kita akan mencari benda yang berbentuk lingkaran. Adik bisa menemukan piring mainannya. Untuk segiempat ia bisa menemukan buku.

Kami juga bermain puzzle bentuk-bentuk geometri untuk lebih mengenalkan padanya berbagai bentuknya. Adik jadi sudah tahu yang seperti lingkaran, segiempat dan segitiga.

IIP
KuliahBunSay
ILoveMath
MathAroundUs

Kamis, 27 Juli 2017

Hari4_Nevita Siswanti_Menstimulus Matematika Logis

Membeli Masker

Kemarin ayah pulang dari tugas luar kota. Mas dan Adik senang sekali. Mereka melepas rindu setelah sepuluh hari tak bertemu.

Sepulang sekolah, Mas dan Adik langsung bercerita banyak hal pada ayah. Termasuk kebuutuhan dan keinginan mereka terhadap sesuatu :-)

Adik ingin beli mainan, juga kacamata, supaya nggak silau waktu ikut Ibu menjemput Mas siang hari. Mas juga ingin kacamata, dan baju pramuka untuk kegiatan eks kul bulan depan. Ayah manggut-manggut mendengarkan cerita mereka.

Sorenya, ayah mau pergi ke tukang kayu untuk memesan rak buku, karena buku-buku saya sudah menumpuk di lantai, nggak kebagian tempat. Kami semua ikut, sekalian masih dalam rangka kangen-kangenan sama ayah.

Di jalan yang kami lewati ada penjual masker dan kacamata. Kami berhenti untuk membelinya. Setelah cocok dengan pilihan masing-masing, Mas menghitung berapa yang harus dibayar.
"Bu, satu kacamata Rp 15.000. Jadi kalau dua 15+15 berarti....30. Wah, harganya 30.000 ya Bu!" serunya.
"Betul! Dan ini maskernya belum dihitung sekalian" kata saya sambil memberikan tiga masker padanya.
"Ya ampuun...masker harganya Rp 5.000" Mas membaca tulisan di atas tumpukan masker yang dijual.
"Jadi berapa ya Bu? 15.000 ya!" kata Mas sambil mulutnya masih komat kamit, sepertinya ia masih menghitung.
"Yes! Jadi, semuanya berapa?Tadi kacamata 30.000 dan masker 15.000?" tanya saya.
"Berapa ya Bu? Aku belum tahu. Kayaknya banyak banget" jawabnya.
Saya mengeluarkan uang dua puluh ribuan dan sepuluh ribuan. Saya berikan pada Mas.
"Ini yang untuk kacamata"
"Tiga puluh ribu!" Mas menerimanya sambil memperhatikan uangnya.
"Nah yang ini untuk masker" kata saya sambil memberinya uang sepuluh ribuan dan lima ribuan.

Mas mengumpulkan uangnya dan menghitungnya kembali.
"Dua puluh, sepuluh, jadi tiga puluh. Sepuluh, jadi empat puluh. Lima, jadiii semuanya empat puluh lima ribu ya ?" Mas senang bisa menghitung. Lalu ia yang menyerahkan uangnya pada penjual.

Sepanjang jalan pulang mas masih membahas banyaknya uang yang digunakan untuk membayar tadi. Menurutnya banyak juga pengeluaran kami. Padahal baru masker dan kacamata. Di situ kami sisipkan makna bersyukur dan pentingnya berhemat, karena ternyata kebutuhannya banyak.

IIP
KuliahBunSay
ILoveMath
MathAroundUs

Rabu, 26 Juli 2017

Hari3_Nevita Siswanti_Menstimulus Matematika Logis

Menghitung Waktu

Tahun ajaran baru ini saya bertambah jabatan, jadi pengantar jemput Mas dan Adik. Karena saya belum selincah ayahnya dalam mengendarai sepeda, maka saya katakan dulu pada mereka.
"Ibu nggak bisa ngebut seperti ayah. Jadi kita harus lebih pagi berangkatnya" kata saya.
"Hah? Jadi jam berapa kita berangkat?" tanya Mas.
"Ibu harap jam 6.40 kita sudah siap" jelas saya.

Dan pagi ini ketika sampai sekolah Mas, dia melihat jam tangannya.
"Bu, masih 6.50. Kalau kemarin 6.55. Masih belum terlambat. Jadi berapa menit dari rumah ya?"
"Nanti pulang sekolah Ibu jelaskan ya" janji saya.

Benar saja, setelah pulang sekolah ia menagih janji. Kami belajar menghitung lama waktu dalam jam. Dengan menggunakan jam mainan yang dibuat dari stereofoam, kami menggerakkan jarum jam dan jarum menit. Mas dan Adik senang memainkannya.

"Jadi kalau aku tidur jam 3 bangun jam 5 itu dua jam ya Bu" kata Mas sambil menghitung.
"Yes, Pinter deh!" puji saya.

Alhamdulillaah, kami telah belajar tentang waktu hari ini. Mas bisa menghitung waktu. Sedangkan Adik bisa membaca jam.

IIP
KuliahBunSay
ILoveMath
MathAroundUs




Senin, 24 Juli 2017

Hari2_Nevita Siswanti_Menstimulus Matematika Logis

Mas dan adik sedang kangen dengan ayah yang tugas di luar kota selama beberapa hari. Kemarin saat telepon, mas bertanya pada ayah kapan pulang. Rencana awal dulu ayah akan pulang hari Rabu minggu ini. Namun ternyata berubah. Menurut ayah bisa jadi Kamis atau malah Sabtu.

Agar mereka tidak terlalu sedih karena kangen ayahnya, saya mengajaknya bermain.
"Coba, yuk kita hitung berapa lama ayah pergi?"
Adik bertanya, "Ayah pergi hari apa ya?"
"Selasa" jawab saya.
Adik menghitung dengan jarinya, "Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, Minggu, terus, Senin lagi?"
"Iya..jadi Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, Minggu, Senin, Selasa, Rabu, Kamis...sepuluh hari kan Bu" seru Mas juga ikut menghitung.
"Iya, in sya Allah ayah pulang hari Kamis ya, mudah-mudahan" doa saya.
"Yeeeeaaahhh..dua hari lagi ayah pulang!! Tinggal Selasa, Rabu, terus Kamis ayah udah pulang!!" teriak Mas senang.
Adik pun ikut lompat-lompat gembira.

Yang tadinya anak-anak sedih menanti ayahnya, berubah menjadi gembira ketika tahu dua hari lagi akan bertemu dengan ayah. Alhamdulillaah...

IIP
KuliahBunSay
ILoveMath
MathAroundUs

Minggu, 23 Juli 2017

Hari1_Nevita Siswanti_Menstimulus Matematika Logis

Kemarin saya membeli pisang ambon setengah sisir. Si kakak dan adik senang dengan buah satu ini. Waktu melihat ada pisang di meja, kakak langsung memakannya satu. Begitu pula dengan adik. Sore hari, bangun tidur kakak kembali makan pisang satu.

Malam harinya, kakak cerita kalau ia telah makan pisangnya tiga buah. Ia pun bertanya, "Pisangnya boleh dihabiskan Bu? Tapi aku udah makan tiga..."
"Boleh" jawab saya.
"Emang Ibu beli berapa tadi?" Ia kembali bertanya.
"Ibu beli setengah sisir. Nggak tahu ya isinya berapa tadi. Eh, coba dihitung yang masih utuh ada berapa?" pancing saya untuk memulai belajarnya.
"Tinggal empat Bu. Aku makan tiga. Berarti semuanya berapa ya?" tanya kakak.
"Coba kakak hitung lagi dengan teliti yuk, kakak makan tiga, Ibu belum makan, ayah sedang di Kalimantan, adik sudah makan belum?Terus sisanya?" saya mengajaknya menghitung.
"Oia...aku tiga, adik satu, jadi empat ya Bu. Terus ini masih empat. Berarti....semuanya delapan!" jawabnya penuh semangat.
"Pinter! Alhamdulillaah..." puji saya sambil mengacungkan jempol untuknya.

Ternyata, belum selesai. Dia masih bertanya lagi.
"Bu, kan pisangnya tinggal empat ya, kalau untuk kita sekeluarga, cukup nggak?"
"Coba yuk, kita bagi. Biar semua kebagian" ajak saya.
Lalu ia memilah pisang untuk kami berempat.
"Wah, kita bisa dapat satu-satu. Ini untuk ayah, ini Ibu, ini aku dan ini adik" jelasnya sambil menunjukkan pembagian pisangnya.
"Yeay...mas keren nih. Karena ayah masih di Kalimantan sampai minggu depan, pisang ayah boleh kalian makan" saya menawarkan.
"Asiiiik...bener ya Bu. Nanti aku tanya adik mau nggak. Kalau adik mau, ya aku potekan, kalau nggak, buat aku semua pisang ayah" sahutnya dengan girang.

Alhamdulillaah... belajar membagi lebih mudah dengan hal-hal sederhana yang ada di sekitar kita.

IIP
KuliahBunSay
ILoveMath
MathAroundUs

Rabu, 12 Juli 2017

Aliran Rasa_Menstimulasi Anak Suka Membaca_Nevita Siswanti

Menjalani tantangan game kali ini kami sekeluarga enjoy sekaliii..

Sang kakak yang makin suka membuat cerita...dan lebih sering bertanya. Nah kalau sudah pada pertanyaan sulit bagi kami, maka bersama mencari jawaban membuat kami makin rajin membaca.

Sang adik juga sudah suka dengan buku, setiap hari pasti ada saja buku yang disodorkan untuk minta dibacakan. Kadang buku saya pun, dipilihnya.

Sang ayah, selain materi pekerjaan, novel pun dilahapnya dengan cepat.

Saya, membuat jadwal membaca lebih teratur, meski sedikit. Saya pun lebih berhati-hati dalam memilah berita yang saya terima, agar tak terjebak pada tsunami informasi.

Terima kasih Kelas BunSay IIP...

Selasa, 20 Juni 2017

Menstimulasi Anak Suka Membaca_Nevita Siswanti_Hari10

Kemarin adik diundang temannya, acara ulang tahun. Pulangnya mendapat bingkisan berbagai makanan ringan dan permen. Kakak dan adik serasa mendapat harta karun, jajan yang tidak diperolehnya dari Ibu :-)

Ketika sampai rumah, mereka membuka bingkisan tersebut. Saat waktu berbuka kakak hendak membuka salah satu snack dan membacanya terlebih dahulu. Ia mencari logo halalnya. Alhamdulillaah, ia sudah terbiasa membaca kemasannya dulu agar tahu ada logo halalnya atau tidak.

Dalam keseharian, memang saya melibatkan mereka dalam berbagai hal. Jika waktunya belanja, saya mengajak mereka dan mengingatkan agar teliti membaca label sebelum membeli sesuatu.

Bunda Sayang
Ibu Professional
IIP
For Things To Change, I Must Change First

Minggu, 18 Juni 2017

Menstimulasi Anak Suka Membaca_Nevita Siswanti_Hari9

Hari ini suami masih melanjutkan novelnya kemarin. Melihatnya asyik menikmatinya, saya jadi penasaran ingin membacanya juga. Tapi tidak sekarang :-)

Kakak hari ini membaca Al Quran dan menurutnya ia sudah membaca. Ia lebih senang membaca Al Quran katanya, pahalanya lebih banyak, tambahnya.

Adik tadi sore kembali mengulang buku Elliotnya. Ia komentari beberapa gambar yang ada di dalamnya.

Saya, selain melanjutkan buku kemarin, saya juga membuka kembali buku 5 Guru Kecilku, Kiki Barkiah.

Bunda Sayang
Ibu Professional
IIP
For Things To Change, I Must Change First

Sabtu, 17 Juni 2017

Menstimulasi Anak Suka Membaca_Nevita Siswanti_Hari8

Hari ini suami pulang dari luar kota setelah sekitar 10 hari bertugas jauh dari keluarga. Sore hari beliau bersantai sambil menikmati Bidadari Bermata Bening, novel karya Habiburrahman El Shirazy.

Kakak hari ini membaca Al Quran, beberapa Surat di juz 30. Sedangkan adik minta dibacakan buku cerita Gagak dan Teko Air.

Saya, masih melanjutkan buku kemarin, Mendidik Anak Laki-laki.

Bunda Sayang
Ibu Professional
IIP
For Things To Change, I Must Change First

Jumat, 16 Juni 2017

Menstimulasi Anak Suka Membaca_Nevita Siswanti_Hari7

Hari ini saya mempunyai buku baru, Mendidik Anak Laki-laki. Kemarin beli online pada teman di Bandung. Alhamdulillaah hari ini datang dan langsung dibuka.

Anak-anak langsung menyerbu juga. Karena ternyata itu buku untuk saya, maka mereka mengambil bukunya masing-masing. Kakak membaca buku Aku Berani Bertanya dan Akulah Api. Sedangkan adik membaca buku Elliot Mandi.

Masih menjadi PR agar kakak mau membaca sendiri. Katanya enak dibacakan Ibu, ada intonasinya :-)

Bunda Sayang
Ibu Professional
IIP
For Things To Change, I Must Change First

Rabu, 14 Juni 2017

Menstimulasi Anak Suka Membaca_Nevita Siswanti_Hari6

Kemarin adik minta dibacakan buku Hello Kitty menjadi Cinderella. Beberapa bagian gambar di dalamnya diberi komentar dan ditanyakan. Adik juga belajar membaca buku sendiri Sabar Dong, Haikal.

Kakak masih senang melanjutkan ceritanya di laptop. Dan belajar membaca Al Quran.

Saya, membaca buku Persembahan Cinta, karya Pipiet Senja,dkk. Kisah beberapa pasangan suami istri yang mencurahkan cintanya. Belajar memahami sudut pandang laki-laki dan perempuan.

Bunda Sayang
Ibu Professional
IIP
For Things To Change, I Must Change First

Selasa, 13 Juni 2017

Menstimulasi Anak Suka Membaca_Nevita Siswanti_Hari5

Hari Senin kami masih melanjutkan membaca buku 28 Hafidz Cilik. Kami sungguh terinspirasi dari kisah para bocah tentang hafalan Quran nya.

Kakak masih lebih suka mencatatkan Surat yang dibacanya pada gambar literasinya. Sedangkan adik berlatih membaca huruf hijaiyah dengan Iqro.

Kakak juga menuliskan cerita dalam laptop tentang jam tangan. Ia terinspirasi membuat dongeng tentang jam tangan karena beberapa hari lalu baru saja mendapat hadiah jam tangan dan ia sangat menyukainya.

Bunda Sayang
Ibu Professional
IIP
For Things To Change, I must Change First

Senin, 12 Juni 2017

Menstimulasi Anak Suka Membaca_Nevita Siswanti_Hari4

Hari Minggu kemarin kami bertiga mencoba membuat pohon literasi. Kakak ingin bentuknya mobil sedangkan adik mau bentuk bunga matahari.

Buku yang kami baca adalah 28 Hafidz Cilik. Karena terinspirasi dari kisah-kisah di buku itu, kakak jadi punya ide ingin buat pohon literasi untuk Al Quran saja. Dia mau mencatatkan Surat yang dia baca pada pohon literasinya.

Sedangkan adik, bunga literasinya malah ditulisi berbagai  hal sesuai keinginannya.

Dan saya lupa baru membuat laporannya sekarang :-)

Bunda Sayang
Ibu Professional
IIP
For Things To Change, I Must Change First

Sabtu, 10 Juni 2017

Menstimulasi Anak Suka Membaca_Nevita Siswanti_Hari3

Memasuki hari ketiga game level 5 Bunda Sayang kami belum juga mewujudkan pohon literasi masing-masing anggota keluarga. Adanya beberapa kegiatan di sekolah kakak dan adik membuat kami baru membicarakan bentuk yang akan kami buat.

Hari ini target saya sebenarnya mengajak kakak untuk mau membaca sendiri. Namun sepertinya belum berhasil. Dia masih saja lebih suka dibacakan. Jika melihat saya membaca buku, ia membawa buku dan meminta saya untuk membacakannya. Menurut nya lebih gampang paham jika saya membacakannya. Hari ini ia membawa buku tentang Kura-kura.

Sedangkan adik hari ini malah berinisiatif membaca buku sendiri. Buku tentang Listrik ia baca perlahan dan selanjutnya minta saya yang meneruskan membacakannya.

Saya, hari ini menikmati cerpen-cerpen Asma Nadia dalam Sakinah Bersamamu. Suami yang di luar kota dengan kondisi sudah sinyal membuat kami belum mengetahui kisahnya, namun sepertinya bacaannya tidak jauh dari materi pekerjaannya.

Bunda Sayang
Ibu Professional
IIP
For Things To Change, I Must Change First

Jumat, 09 Juni 2017

Menstimulus Anak Suka Membaca_Nevita Siswanti_Hari2

Hari ini kami belum membuat pohon literasi. Ada beberapa agenda lain yang kami kerjakan. Namun kegiatan membaca tetap berjalan.

Kakak mulai saya sarankan untuk membaca sendiri. Awalnya dia tidak mau, lebih suka saya bacakan. Namun dengan penjelasan dan negosiasi dia mau membaca sendiri namun sebagian saja. Selebihnya tetap minta saya bacakan. Kali ini ia memilih buku berjudul Haikal, Sabar Dong.

Adik kali ini memilih buku berjudul Kucing. Pengenalan sederhana tentang kucing. Selesai saya bacakan kami membahas sebentar tentang buku yang kami baca.

Saya sendiri masih melanjutkan buku yang sama dengan hari kemarin.

Bunda Sayang
Ibu Professional
IIP
For Things To Change, I Must Change First

Kamis, 08 Juni 2017

Menstimulus Anak Suka Membaca_Nevita Siswanti_Hari1

Bismillaah, mengawali game level 5 hari ini kami kumpul sekeluarga untuk membicarakan tentang tantangan dari materi Bunda Sayang. Besok suami sudah tugas ke luar kota, jadi hari ini kami tentukan dulu rencana acara baca keluarga.

Anak-anak senang menyambut program ini karena memang sudah biasa membaca atau dibacakan buku. Bahkan kakak (almost 8yo) yang sudah bisa baca pun lebih senang dibacakan daripada membaca sendiri.

Siang ini sebelum tidur saya membacakan dua buku, satu pilihan kakak dengan judul Kata Siapa Tidak Boleh Marah? Sedangkan adik memilih buku Upin dan Ipin. Mereka menyimak dan sesekali mengomentari gambarnya.

Saya sendiri, di sela-sela kegiatan rumah tangga menyempatkan diri membaca buku Melalui Hati Menjumpai Illahi, seri pemikiran AL Ghazali. Jangan ditanya kapan selesainya, baru buka sebentar, anak-anak sudah datang ikut membawa buku minta dibacakan :-)

Alhamdulillaah hari ini kami sudah memulai, dengan niat menambah pahala di bulan Ramadhan membaca buku akan kami jadikan kegiatan rutin mengisi waktu puasa, semoga diberi kemudahan.

Bunda Sayang
Ibu Profesional
IIP
For Things To Change, I Must Change First

Selasa, 23 Mei 2017

Aliran Rasa_Memahami Gaya Belajar_Nevita Siswanti

Duluuu..saya tak tahu jika masing-masing orang berbeda gaya belajarnya. Duluuu...yang saya tahu belajar itu dengan membaca, mendengarkan dan mencatat.

Ternyata saya keliru....alhamdulillaah dapat ilmu lagi dari Bunda Sayang. Kini bisa mengamati gaya belajar untuk dua buah hatiku. Si sulung yang ternyata auditory kinestetik dan si bungsu kinestetik (so far).

Perjalanan masih panjang, dengan memahami gaya belajarnya, berharap kami bisa membantunya menemukan cara belajar yg paling pas untuk mereka.

Terima kasih Bunda Sayang IIP....

Selasa, 02 Mei 2017

Hari10_Mengenal Gaya Belajar Anak_Nevita Siswanti

Kalau kakak sudah ketemu auditory kinestetik, adiknya masih belum terlalu yakin antara visual kinestetik atau kinestetik. Masih butuh perpanjangan pengamatan rupanya. Alhamdulillaah, diberi kesempatan nambah ilmu lagi. Semangat !

#Tantangan10hari
#Level4
#GayaBelajarAnak
#KuluahBunsayIIP

Senin, 01 Mei 2017

Hari9_Mengenal Gaya Belajar Anak_Nevita Siswanti

Kelihatan bahwa sang kakak gaya belajarnya auditory kinestetik. Dia lebih senang mendengar dan bercerita sambil menggerakkan anggota badannya. Tinggal tugas selanjutnya menyiapkan sarana dan cara yang pas agar proses belajarnya optimal.

#Tantangan10hari
#Level4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunsayIIP

Minggu, 30 April 2017

Hari8_Mengenal Gaya Belajar Anak_Nevita Siswanti

Hari ini senang, alhamdulillaah bisa kencan berdua dengan kakak untuk membeli buku. Dan siangnya seru-seruan main busa sabun dengan maksud cuci baju dengan adik. Tugas kami hanyalah menemaninya dan membantu menemukan yang klik dengan mereka.

#Tantangan10hari
#Level4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunsayIIP

Sabtu, 29 April 2017

Hari7_Mengenal Gaya Belajar Anak_Nevita Siswanti

Semoga ya Nak, semoga pengamatan ini berbuah manis untuk kalian berdua. Ayah Ibu bisa membantu kalian menemukan cara belajar yang asyik. In sya Allah kita akan rancang bagaimana membuat setiap kegiatan menjadi menyenangkan dan bermakna.

#Tantangan10hari
#Level4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunsayIIP

Jumat, 28 April 2017

Hari6_Mengenal Gaya Belajar Anak_Nevita Siswanti

Menemani sang kakak belajar matematika membuat saya menemukan dia lebih paham dengan mendengarkan penjelasan. Cara memahami soal cerita yang saya jelaskan dengan contoh dan ia kembali mengulanginya sepertinya menunjukkan ia bergaya auditory. Sedang mengamati pula gaya adiknya. Semoga pengamatan kami benar Dan bisa membantu kalian ya Nak, in sya Allah.

#Tantangan10hari
#Level4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunsayIIP

Kamis, 27 April 2017

Hari5_Mengenal Gaya Belajar Anak_Nevita Siswanti

Memasuki hari ke-5 sepertinya mulai nampak sang kakak lebih ke gaya auditori kinestetik dan sang adik visual kinestetik. Namun masih perlu penggalian lebih lanjut agar menemukan cara belajar yang efektif bagi mereka.

#Tantangan10hari
#Level4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunsayIIP

Rabu, 26 April 2017

Hari4_Mengenal Gaya Belajar Anak_Nevita Siswanti

Memasuki hari ke4 menemani anak-anak berkegiatan dan mengamati gaya belajarnya. Mulai terlihat mereka cenderung kinestetik. Pantesan saat makan sering pindah tempat :-)
Masih terus mengamati untuk dapat yang "klik" untuk mereka, in sya Allah, semangat!

#Tantangan10hari
#Level4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunsayIIP

Selasa, 25 April 2017

Hari3_Mengenal Gaya Belajar Anak_Nevita Siswanti

Mengamati kegiatan anak-anak jadi lebih memperhatikan kebiasaan-kebiasaan yang mereka lakukan. Dengan mendokumentasikannya semoga bisa menjadi salah satu ikhtiar membantunya menemukan jalan terbaiknya, aamiin.

#Tantangan10hari
#Level4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunsayIIP

Senin, 24 April 2017

Hari2_Mengenal Gaya Belajar Anak_Nevita Siswanti

Menemaninya bermain agar menemukan gaya belajarnya. Semoga jadi makin efektif belajarnya.

#Tantangan10hari
#Level4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunsayIIP

Minggu, 23 April 2017

Hari1_Mengenal Gaya Belajar Anak_Nevita Siswanti

Bismillaah, memulai pengamatan gaya belajar anak, kami menemaninya bermain dan belajar.

#Tantangan10hari
#Level4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunsayIIP

Jumat, 14 April 2017

Aliran Rasa_My Family My Team_Nevita Siswanti

Sungguh saya selalu bersyukur belajar di IIP. Memasuki materi ke-3 keluarga kami belajar membuat proyek. Bukan sesuatu yang "wah" tapi hikmah dan pelajaran yang didapat sangat banyak.

Bahwa ternyata setiap aktivitas bersama anak jika dimaknai dengan "proyek ala IIP" ini, akan mendatangkan banyak manfaat. Dari proyek pertama kami menyemai biji cabe dengan rencana dapat menanam cabe dan membuat sambel dari pohon sendiri, kami belajar :
1. Berkomunikasi yang efektif
2. Belajar bermusyawarah
3. Belajar bersabar
4. Belajar menghadapi keadaan yang tidak diharapkan
5. Saling membantu meski bukan tugas PJ
Kami bersenang-senang dalam belajar,yeay...!
Trimakasih Bunda Sayang IIP

Rabu, 05 April 2017

Hari10_My Family My Team_Nevita Siswanti

Seminggu Penyemaian

Sudah seminggu usia penyemaian biji cabe. Alhamdulillaah anak-anak masih rajin menyiram. Pagi hari sebelum berangkat sekolah Arfa mengingatkan adiknya untuk menyiram.

Anak-anak sudah membayangkan tanamannya tumbuh dan berbuah. Meski masih lama, saya berusaha menyemangati mereka akan keberhasilannya. Semoga apa pun hasil dari proyek ini, kami mendapatkan banyak pelajaran.

Saya dan suami merasa proyek ini terlalu lama. Kami takut anak-anak bosan. Namun ternyata mereka cukup sabar dan ternyata lewat proyek ini pula kami belajar banyak hal. Jalan masih panjang dan masih perlu berkarung-karung semangat untuk terus belajar.

Bunda Sayang
My Family My Team
Ibu Professional
IIP

Selasa, 04 April 2017

Hari 9_My Family My Team_Nevita Siswanti

Belajar dari Alam

Penantian tumbuhnya biji cabe menjadi tanaman berdaun memberikan banyak pelajaran bagi kami. Sambil menyirami, saya dan anak-anak membicarakan siapa yang menumbuhkan biji menjadi tanaman. Betapa Maha Kuasa Allah.

Pembicaraan pun sampai juga pada bahwa kita pun ciptaan Allah dengan segala keunikannya. Arfa dan Yumna yang memiliki khas masing-masing. Karena nya kita perlu saling menghormati dan tidak memaksakan kehendak.

Ma sya Allah, ternyata dari menanam biji cabe bisa diperoleh pelajaran tauhid. Semoga esok makin banyak lagi ilmu yang kami peroleh.

Bunda Sayang
My Family My Team
Ibu Professional
IIP

Senin, 03 April 2017

Hari 8_My Family My Team_Nevita Siswanti

Proses Penyemaian

Sudah empat hari sejak anak-anak menanamkan biji cabe. Menurut referensi, butuh waktu sebulan lebih untuk sampai tumbuh pohon cabe. Anak-anak masih teratur menyiram tiap hari.

Ada pelajaran sabar dalam menunggu proses penyemaian ini. Ada hikmah bagi kami untuk menikmati proses penantian ini.

Tiap hari saya mengapresiasi dan memberi semangat pada anak-anak. Bahwa segala sesuatu membutuhkan proses. Termasuk menyiapkan kondisi yang tidak diinginkan.

Semoga lewat proyek ini kami bisa mendampingi anak-anak belajar menjalani hidup dengan kecakapan yang bijak.

Bunda Sayang
My Family My Team
Ibu Professional
IIP

Jumat, 31 Maret 2017

Hari 7_My Family My Team_Nevita Siswanti

Membantu Tugas

Satu hari setelah penyemaian anak-anak berusaha merawat tanaman mereka. Mengamati apakah yang terjadi pada pot yang kemarin ditanami biji cabe.

Terkait pembagian tugas, Yumna yang bertugas menyirami. Hari ini siang sekitar waktu dzuhur ia sudah menanyakan kapan boleh menyiram tanamannya dan berapa kali dalam sehari boleh menyiram tanamannya.

Sore harinya, saat Yumna belum bangun, Arfa bermaksud membantu tugas Yumna dengan menyirami pot-pot yang kemarin ditanami. Ia bertanggung jawab karena ia lah ketuanya, begitu ia berkata.

Alhamdulillaah, anak-anak masih konsisten dan antusias. Mereka juga saling membantu dalam mengerjakan tugasnya. Saya menanyakan apa yang mereka rasakan. Anak-anak merasa senang melakukannya.

Bunda Sayang
My Family My Team
Ibu Professional
IIP

Kamis, 30 Maret 2017

Hari 6_My Family My Team_Nevita Siswanti

Penyemaian

Sore tadi kami telah mendapatkan tanah. Kami mencampurnya dengan sekam dan pupuk. Kami menyiapkan dua pot. Satu pot untuk menanam biji yang terapung, dan pot yang satu untuk menanam biji yang tenggelam.

Arfa dan Yumna yang mengaduk-aduk tanah lalu memasukkan biji cabenya. Mereka antusias melakukannya. Mereka juga menyiramnya.

Anak-anak senang bisa mendapatkan tanah, lalu menikmati proses mengaduk-aduk tanah dengan sekam dan pupuk.

Semoga besok semangat masih terjaga..

Bunda Sayang
My Family My Team
Ibu Professional
IIP

Rabu, 29 Maret 2017

Hari 5_My Family My Team_Nevita Siswanti

Persiapan Tanah

Hari ini biji yang kemarin dijemur sudah kering. Hari ini kami menyiapkan tanah untuk menyemai biji.

Tanahnya sebaiknya gabungan antara tanah dan pupuk atau sekam. Pupuk dan sekam kami sudah ada, namun tanah kami bermaksud mengambil dari sebelah rumah. Balada orang kota... sudah cari tanah.

Kami rencananya sore hari akan mengambil tanahnya, setelah bangun dari tidur siang dan sholat ashar. Namun ternyata sore hujan...tanahnya becek sekali...

Anak-anak kecewa...Arfa yang ekspresif sempat kesal karena hujan. Saya menemaninya...saya belajar membiarkannya mengelola emosinya. Yumna yang menjelaskan besok saja tunggu tanah nya tidak becek.

Malamnya saya mengucapkan trimakasih, anak-anak semangat ingin belajar cara menanam cabe. Meski kadang dalam kenyataan, kita menemukan hal di luar rencana kita. Pasti ada pelajaran juga di balik kejadian itu.

Bunda Sayang
My Family My Team
Ibu Professional
IIP

Selasa, 28 Maret 2017

Hari 4_My Family My Team_Nevita Siswanti

Pengamatan Biji yang Dijemur

Hari ini anak-anak mengamati biji cabe yang dijemur kemarin sore. Menurut artikel yang kami dapat, cara menjemurnya tidak di bawah sinar matahari langsung. Jadi kami hanya meletakkannya di dalam rumah.

Ternyata, tadi pagi anak-anak lihat bijinya belum kering. Seharian tadi kami pergi mengantar mertua ke tempat adik suami, dan baru sampai Rumah kembali sudah malam.

Alhamdulillaah sampai hari ini anak-anak masih konsisten dengan proyek yang telah disepakati bersama. Dengan gembira mereka mengamati biji cabenya, pagi setelah bangun tidur. Rasa ingin tahunya juga masih tinggi, bagaimana biji cabe bisa tumbuh. Dan biji mana yang bagus.

Bunda Sayang
My Family My Team
Ibu Professional
IIP

Senin, 27 Maret 2017

Hari 3_My Family My Team_Nevita Siswanti

Memilih Biji untuk Disemai

Hari ini kami memilih biji cabe yang nantinya akan kita tanam. Menurut artikel yang kami baca, ada cara untuk mengetahui mana biji cabe yang bagus dan tidak, yaitu dengan merendamnya. Jika biji cabenya tenggelam, maka itu biji yang bagus.

Saya, Arfa dan Yumna mulai membuka cabe untuk mengambil bijinya lalu merendamnya. Kami siapkan cabe yang kering dan yang masih segar. Ternyata, hasil pengamatan anak-anak, biji cabe yang masih segar tenggelam, sedangkan biji cabe kering terapung. Kami memisahkan kedua jenis biji cabe tadi (segar dan kering) untuk membuktikan kebenaran bahwa biji yang terapung tidak bagus.

Lalu kami menjemur biji-biji tersebut, namun tidak terkena sinar matahari langsung. Anak-anak antusias melakukannya. Setelah itu, anak-anak langsung inisiatif cuci tangan sampai benar-benar bersih, takut pedas kalau mengucek mata, katanya.

Alhamdulillaah...mereka masih semangat ingin tahu tentang menanam cabe. Bahkan Yumna mengusulkan agar kami juga menanam tomat, paprika..

Bunda Sayang
My Family My Team
Ibu Professional
IIP

Minggu, 26 Maret 2017

Hari 2_My Family My Team_Nevita Siswanti

Setelah Pause Menunggu Arfa Outbond

Arfa sebagai pimpinan proyek dua hari kemarin (Jumat-Sabtu) mengikuti acara outbond sekolah "Supercamp" di Subang. Baru pulang tadi malam.
Padahal ada beberapa hal yang akan saya "laporkan" padanya, selaku ketua proyek ini.

Hari Jumat suami sudah menemukan artikel tentang cara menanam cabe. Dan...ada 4 tahapan yang perlu dilakukan, yaitu:
1. Penyemaian
2. Penanaman
3. Perawatan
4. Pemanenan
Dari artikel yang dibaca, ternyata untuk penyemaian saja butuh waktu 30-45 hari hingga tanaman tumbuh daun dan siap ditanam.

Saya dan suami sempat berpikir proyek ni terlalu panjang untuk dilakukan jika dilakukan seperti rencana awal (dari menanam hingga panen). Namun kami sepakat untuk membahasnya bersama anak-anak, termasuk menunggu Arfa pulang dari outbond. Dua hari kami pause proyek ni.

Hari ini, setelah Arfa menceritakan pengalaman outbondnya yang seru, kami kembali membahas proyek. Kami ceritakan tentang artikel yang telah didapat. Ternyata anak-anak tetap mau melanjutkan proyek ini. Malah tambah semangat.

Bahan:
-Pot
-Biji cabe
-Wadah untuk menjemur biji
-Wadah untuk merendam biji
-Tanah dan sekam

Bismillaah, kami mantabkan proyek KEBUN SAMBALKU. Hari ini sudah menyiapkan pot dan biji cabenya, tapi belum kering. Semoga semangat kami tetap terjaga hingga nanti....

Bunda Sayang
My Family My Team
Ibu Professional
IIP

Kamis, 23 Maret 2017

Hari 1_My Family My Team_Nevita Siswanti

Diskusi Dimulai...

Sejak kemarin saya sudah mulai memperkenalkan istilah project ke suami dan anak-anak. Perlahan mulai sedikit paham dan terbayang apa yang hendak dilakukan.

Malam ini setelah bermain peran, di kamar kami kembali membicarakan project. Ada beberapa ide yang muncul, suami usul tentang pemisahan sampah,  Arfa (almost 8yo) mengusulkan menanam. Ternyata usul Arfa didukung oleh Yumna (almost 5yo).

Kami persempit, apa yang hendak ditanam? Kata Arfa, dia mau menanam cabe karena kata Ibu cabe mahal, jadi kalau tanam sendiri kita nggak usah beli. Arfa memang suka sambel.

Karena Arfa yang punya usul, kami sepakat pimpro kali ini dia. Dan dia membagi tugas :
- Ayah tugasnya mencari info tentang tanaman cabe lewat internet karena ayah paling sering lihat HP
- Ibu tugasnya membersihkan tanaman jika nanti ditemukan ada pengganggunya
-Adik tugasnya menyiram tanaman
Kami beri nama project ini "KEBUN SAMBALKU"

Bismillaah kami mulai project ini..semoga banyak hikmah dan pelajaran yang akan kami peroleh lewat project ini, aamiin.

Bunda Sayang
My Family My Team
Ibu Professional
IIP

Rabu, 15 Maret 2017

Aliran Rasa_Kemandirian Anak_Nevita Siswanti

Konsisten, Tega dan Sabar

Melatih kemandirian anak adalah sejatinya mempersiapkan masa depannya. Namun kadang saya sebagai orangtua masih ada rasa berat, kasian untuk menerapkannya.

Melalui kelas Bunda sayang saya belajar konsisten untuk melatihnya. Konsisten pada diri saya sendiri, pada anak-anak, pada lingkungan dan "godaan" yang melemahkan.

Beberapa hal yang masih terus saya pelajari adalah :
1. Konsisten
Bukan hal mudah untuk tetap pada tekad dan semangat awal. Harus terus mencari bahan bakar untuk selalu mengobarkannya
2. "Tega" pada anak
3. Sabar
Tidak perlu tergesa melihat sempurnanya hasil
4. Teladan
Anak-anak selalu memperhatikan apa yang kita lakukan. Sungguh, ini tantangan untuk saya agar terus belajar.

Alhamdulillaah, bertambah ilmu lagi dari Bunda sayang, semoga kami sekeluarga tetap bisa konsisten menjadi lebih baik, semangat !

Trimakasih Tim Bunda Sayang....

Sabtu, 04 Maret 2017

Hari10_Kemandirian Anak_Nevita Siswanti

Masih Roti Isi Pisang dan Mencuci Piring

Hari ini Arfa dan Yumna masih semangat membuat roti isi pisang dan selai strawberry. Pagi hari mereka membuat sarapan sendiri.

Malam hari pun masih ngemil roti isi pisang lagi :-)
Biarlah, mereka masih menikmati hasil buatan sendiri. Rasanya pasti lebih enak karena ada rasa kebanggaan di dalamnya. Semangat ya...resep-resep lain sudah menanti esok hari :-)

Aktivitas mencuci piring juga masih mereka jalankan. Alhamdulillaah, masih terjaga konsistensinya. Semoga esok hari kita tetap semangat menyambut tantangan baru. Ayo Nak...kita akan terus bergerak maju...! Semangat !

Bunda Sayang
Melatih Kemandirian
Ibu Professional
IIP

Jumat, 03 Maret 2017

Hari9_Kemandirian Anak_Nevita Siswanti

Tantangan Baru

Hari ini Arfa memulai belajar membuat makanan sendiri. Kali ini yang dipilih roti isi pisang selai strawberry. Ia mengikuti resep di buku, namun ia sesuaikan dengan kondisi yang ada. Keju dan selai coklat ia ganti dengan selai strawberry. Langkah demi langkah ia ikuti. Hal baru yang ia temukan adalah belajar memotong pisang. Setelah roti jadi, dengan tangan belepotan selai ia bangga menunjukkannya pada saya, "Bu, Mas bisa ya bikin sendiri, ikutin resep kayak Ibu kalau bikin kue. Alhamdulillaah jadi Bu, enak!"

Sedangkan Yumna, ia hanya mengoles roti dengan selai saja. Pengalaman baru Yumna kali ini adalah mencuci sendok. Ia bangga sekaliii sudah bisa melakukannya.

Alhamdulillaah... anak-anak bersemangat mempelajari hal baru. Tinggal dipantau konsistensinya. Saya belajar banyak dari mereka. Terima kasih Nak, bantu Ibu untuk terus belajar agar kita bisa mengucapkan "Yes, I Can !" bersama-sama, in sya Allah...

Bunda Sayang
Melatih Kemandirian
Ibu Professional
IIP